KALTIMPOST.ID, KUTIM - Berbagai macam usaha dijajal Juwita sejak pindah ke Sangatta dari Balikpapan pada 2014. Namun dia memutuskan fokus pada usaha camilan empat tahun kemudian. Peluang ekspor pun menghampiri pada tahun ini.
Senang dengan dunia dagang. Itulah yang membuat Juwita tidak bisa diam dan terus mencari cuan. Tiba di Sangatta saat 10 tahun silam, dia langsung membuka usaha butik. Dari situ, dia juga coba membaca peluang. Apalagi yang bisa dikembangkan.
“Ada peluang bisnis lobster air tawar, kepiting soka, ya dicoba. Soalnya pada tahun itu, di Sangatta masih belum populer. Jadi basicnya saya ini memang suka bisnis. Termasuk coba usaha camilan,” bebernya.
Saking banyaknya yang harus ditangani, Juwita semakin keteteran. Di sisi lain, kedua anaknya juga butuh perhatian ekstra. Sehingga pada 2018, dia putuskan untuk fokus kembangkan camilan dengan mendirikan PT Sangatta Omah Foods.
“Kalau butik ini kan saya harus ke luar kota belanja, begitu juga lobster dan kepiting kan harus ambil ke luar Sangatta. Jadi pergi-pergi. Nah, camilan ini yang enggak harus ke mana-mana. Mulai diperbaiki juga semuanya, dari manajemen usaha sampai pengemasan,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, kualitas semakin terlihat. Apalagi di kabupaten, snack keripik pisang dengan kemasan printing dan aneka rasa masih jarang. “Apalagi produk lokal buatan Kutim nih, mereka (pembeli) semakin antusias. Keripik pisang kan umumnya rasa manis, pedas dan asin. Nah saya buat rasa cokelat. Jadi makin penasaran,” sambung Juwita.
Variasi pun semakin banyak, kini tercipta enam varian rasa manis dengan tiga rasa ikan. Ide keripik dengan rasa ikan itu juga karena adanya peluang, dia buat dari ikan lele, gabus dan teri.
Pasarnya pun semakin luas, tidak hanya lokal Sangatta. Namun juga ke daerah tetangga seperti Bontang. Samarinda dan Balikpapan juga tersebar produk olahan Juwita.
Setidaknya seminggu empat kali produksi. Jika tinggi orderan, bisa dipastikan setiap hari. Dibantu empat karyawan tetap. Sekali produksi, bisa lebih dari 20 sisir pisang. Bahkan, pernah juga mengerjakan 16 tandan dalam dua hari karena adanya permintaan.
Singkat cerita, nama Juwita masuk dalam list calon peserta yang akan diboyong ke TEI 9-12 Oktober oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim. Berbagai persyaratan dia penuhi. “Tiga kandidat terpilih. Nah yang dua ini memang pemain ekspor sudah. Cuma saya satu-satunya yang UMKM dan baru perdana coba peluang ekspor,” bebernya.
Menjadi pengalaman berharga buat Juwita. Dari event itu, dia belajar banyak hal. Usahanya yang fokus pada kudapan manis, ternyata belum banyak disukai buyer. “Tidak semua negara doyan ikan juga. Jadi yang paling potensial itu keripik cokelatnya, karena memang tidak terlalu manis, masih ada pahit cokelatnya sedikit,” kata Juwirta.
Negara tetangga yakni Malaysia yang melirik keripik cokelat Juwita. Ada potensi besar di situ. Saat ini diakui masih dalam tahap negosiasi. Namun memang diakui terkendala ongkos kirim. Belum lagi dirinya yang tinggal di Kutim.
“Kaya ke Sabah itu perkilogram dikenai Rp 187 ribu. Jadi masih cari-cari opsi pengiriman terjangkau. Nilai tambah lainnya, saya juga jelaskan ke buyer, kalau beli produk saya itu juga ikut menyejahterakan petani yang kerjasama dengan saya,” ungkapnya.
Sebab, seluruh bahan baku dia ambil dari petani lokal. Ada sedikitnya 12 kebun atau petani yang rutin mengirim suplai pisang ke Juwita. Selain itu, dia juga kerjasama dengan petani cokelat setempat. “Jadi memang fokusnya juga ke pemberdayaan sesama khususnya petani,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo