Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Hasil Pertanian Naik, Daya Beli Petani Kaltim Meningkat

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 16 November 2024 | 07:00 WIB
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana

SAMARINDA – Kabar gembira datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Kaltim pada Oktober 2024 tercatat sebesar 139,16, menunjukkan peningkatan daya beli petani di Bumi Etam. NTP Oktober naik 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, kenaikan NTP ini didorong oleh kenaikan harga hasil produksi pertanian yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa yang dibeli petani. Hal ini mengindikasikan bahwa petani Kaltim semakin sejahtera.

Jika dibandingkan dengan NTP pada bulan yang sama tahun lalu, NTP Oktober secara umum naik 7,68 persen. Kenaikan NTP ini menunjukkan bahwa petani Kaltim mampu meningkatkan pendapatannya.

“Pada Oktober, terdapat tiga subsektor yang mengalami kenaikan NTP yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,23 persen. Subsektor peternakan 1,29 persen dan subsektor perikanan 0,82 persen. Sebaliknya, dua subsektor alami penurunan yaitu tanaman pangan 1,18 persen dan hortikultura 1,34 persen,” ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.

Kenaikan NTP Kaltim turut dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas unggulan daerah, salah satunya sawit hingga perikanan. Sedangkan untuk indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 166,49. Berarti, tingkat harga produksi pertanian alami kenaikan rata-rata 66,49 persen. Juga terjadi kenaikan 0,09 persen dibandingkan September.

Jika dirinci, tiga subsektor alami kenaikan It. Yaitu peternakan 1,35 persen, diikuti perikanan 0,67 persen dan tanaman perkebunan rakyat 0,31 persen. Sebaliknya, dua subsektor alami penurunan yakni tanaman pangan 1,01 persen dan hortikultura 1,22 persen.

“Lalu untuk indeks harga yang dibayar petani (Ib) Oktober tercatat 119,64 atau naik 0,07 persen dibandingkan September. Berdasarkan kelompok penyusunnya, nilai indeks konsumsi rumah tangga alami kenaikan 0,16 persen. Sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) turun 01,4 persen,” lanjutnya.

Empat subsektor alami kenaikan Ib, tertinggi dari tanaman pangan 0,17 persen, lalu hortikultura 0,12 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,08 persen dan peternakan 0,06 persen. Kebalikannya, penurunan datang dari perikanan sebesar 0,15 persen.

Meski secara keseluruhan membaik, masih ada beberapa subsektor pertanian yang mengalami penurunan NTP, seperti tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini menandakan bahwa petani di subsektor tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti fluktuasi harga pasar, keterbatasan akses pasar, dan kendala produksi.

“Dari lima provinsi di Kalimantan, seluruhnya alami kenaikan NTP. Tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 2,88 persen dengan NTP 162,35. Lalu  Kalimantan Tengah yang naik 2,11 persen dengan NTP 128,02. Kalimantan Utara yang naik 0,63 persen dengan NTP 114,07. Diikuti Kalimantan Selatan yang naik 0,42 persen dan NTP-nya 113,21 lalu Kaltim. Secara nasional, NTP naik 0,33 persen,” paparnya.

Terakhir, dipaparkan pula mengenai nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP). naik 0,23 persen dibanding NTUP September menjadi 143,38. Kenaikan ini terjadi karena It naik 0,09 persen sementara indeks BPPBM turun 0,14 persen.

Ada tiga subsektor alami kenaikan NTUP, yaitu perkebunan rakyat 0,29 persen, peternakan 1,37 persen, dan perikanan 1,66 persen. Sedangkan dua subsektor menurun yakni tanaman pangan 0,96 persen dan hortikultura 1,12 persen. (dwi)

 

Editor : Duito Susanto
#petani #pertanian #kaltim