Kampungnya berada di daerah Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar), dekat dengan perkebunan sawit. Ada potensi besar yang dilihat Tommy Septanus Christian dari sana. Kini, empat tahun sudah dia berkecimpung di bungkil dan cangkang sawit. Coba jajal pasar ekspor dengan potensial buyer Timur Tengah.
RADEN RORO MIRA, Kutai Kartanegara
PELUANG itu muncul saat pandemi. Tepatnya 2020 lalu. Arah usahanya memang belum untuk memenuhi pasar ekspor. Masih coba bermain di lokal. Tommy coba mencari tahu dan mempelajarinya terlebih dulu.
Secara regulasi, perusahaan mendistribusikan limbah tersebut ke badan usaha milik desa (BUMdes). “Jadi kalau mau ambil harus melalui BUMdes. Kemudian bangun jaringan, saya main ke Samarinda ketemu sama pemain-pemain lama. Jadi memang permintaan atau pasarnya banyak ke Surabaya. Utamanya untuk ternak pakan,” beber Tommy.
Sudah mulai memahami pola pemasaran lokal, dia coba jajal pasar ekspor. “Sekitar akhir tahun mulai research and development. Kemudian cari komunitas terkait dan join pada akhir 2021. Ikut pelatihan kelas-kelasnya, pelajari ilmunya, apa saja syaratnya. Belajar dulu,” lanjut dia.
Apalagi khusus komoditas dari turunan sawit, ada regulasi berbeda. Kaitannya dengan tambahan biaya keluar. “Jadi memang komoditi dari kelapa sawit ini cukup diperhitungkan sama pemerintah, pasar atau market-nya kan juga besar. Jadi ada regulasi yang beda,” sambungnya.
Sering kali mereka yang coba jajal pasar ekspor merasa kesulitan bagaimana agar bisa mendapatkan buyer. Justru menurut Tommy, itu bukan kendala terbesar. Mudah untuk terhubung dengan buyer, yang sulit adalah menyediakan pasokan atau barangnya.
Sebab, banyak yang melirik peluang usaha serupa. Belum lagi harus bersaing dengan tengkulak hingga calo. Pada akhirnya, selain kerja sama dengan di Tabang, Tommy akhirnya menemukan bahwa di Palaran, Samarinda ada gudang khususnya.
“Kenapa dapat data buyer itu mudah, karena dari ikut komunitas itu tadi. Ada juga platform business to business (b2b) yang bisa memudahkan. Dari situ coba menghubungi via email. Yang respons banyak, negosiasi di harga. Tapi ya harus hati-hati juga, enggak semua data buyer itu ternyata memang pembeli. Bisa jadi scam, mereka cuma mau survei, ambil data. Itu yang kadang bikin patah semangat eksportir pemula,” jelasnya.
Bicara closing, diakui Tommy memang masih belum. Sejauh ini masih di tahap penjajakan. Namun dirinya sudah pernah kirim sampel kolaborasi dengan eksportir lain hingga satu kontainer ke Pakistan.
Konsisten di pasar lokal sambil terus tindak lanjut buyer-buyer potensial. Hadir dalam pameran perdagangan terbesar di Indonesia yakni Trade Expo Indonesia (TEI) pada Oktober lalu, Tommy mulai memetakan buyer potensial. Permintaan tertinggi datang dari Timur Tengah.
“Tapi sayangnya kemarin posisi booth bukan di hall 3 yang khusus agrikultur, malah di hall 9 yang untuk kriya. Jadi memang kurang maksimal. Kendala di hall yang enggak sesuai. Ada beberapa buyer memang saat di sana dari Timur Tengah yang potensial,” sebutnya.
Peluang yang besar itu dia kembangkan dengan membuka kemitraan khususnya di Pulau Jawa. “Jadi siapa yang punya gudang sesuai dengan spesifikasi, nanti kami yang suplai bungkil ke sana. Mereka tinggal pasarkan. Besar memang peluangnya dari turunan kelapa sawit ini,” tutupnya. (rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan