KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pasar Inpres berhasil menyumbang hingga 80 persen dari total target pendapatan asli daerah (PAD) yang diraih oleh UPTD Pasar Wilayah I Dinas Perdagangan (Disdag) Balikpapan sepanjang 2024. Namun capaian tersebut belum memenuhi target yang dipatok pemerintah yakni sebesar Rp 1,4 miliar, atau hanya terealisasi Rp 1,2 miliar.
Meski demikian, pencapaian ini menunjukkan adanya kontribusi positif pasar terhadap perekonomian daerah. Disampaikan Kepala UPTD Pasar Wilayah I Dinas Perdagangan Balikpapan Normaniah, meski capaian ini sudah baik, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus dilakukan untuk terus menggenjot pendapatan pasar.
Salah satunya meratakan volume transaksi di pasar yang kini masih terfokus pada beberapa sektor dan pedagang saja. Pasar Inpres ini memiliki 222 petak dengan 200 pedagang. "Jumlah retribusi yang kami dapatkan masih sekitar Rp 40 juta dari target Rp 50 juta per bulan, memang masih belum optimal. Dari itu. Kami berharap dengan adanya revitalisasi, keramaian dan daya tarik pasar ini semakin meningkat,” ujar Normaniah, Rabu (8/1).
Di Pasar Inpres, produk kerajinan tangan seperti anyaman, kain tenun, perhiasan, dan ukiran khas Kalimantan memang mendominasi hampir 90 persen dari total pedagang. Sisanya, sekitar 10 persen, adalah pedagang kuliner.
Pedagang kerajinan ini menawarkan berbagai barang menarik hasil dari pengrajin lokal di berbagai daerah di Kalimantan, dan seringkali produk tersebut menarik minat wisatawan domestik, hingga asing, walau diakui pula jumlah wisatawan asing kian jarang.
Untuk 2024, sebut Normaniah, pengunjung ke Pasar Inpres pun mengalami peningkatan yang cukup baik. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung mengalami kenaikan sekitar 30 persen. Meskipun banyak wisatawan lokal, dia menyebutkan bahwa pengunjung dari luar Kalimantan, terutama dari Jawa dan Sulawesi masih sangat bergantung pada event atau kegiatan tertentu yang diadakan di Balikpapan.
Seperti beberapa kegiatan yang berkaitan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 2024 lalu, telah membuat lonjakan pengunjung dan penjualan bahkan hingga 100 persen, walau hanya beberapa hari saja.
"Pengunjung yang datang ke Pasar Inpres masih didominasi oleh masyarakat Kalimantan. Namun, ke depan, kami berharap dengan pengembangan pasar ini, pengunjung dari luar Kalimantan, bahkan wisatawan mancanegara, bisa lebih tertarik datang, apalagi dengan adanya event-event tertentu," kata Normaniah.
Dia juga menegaskan bahwa revitalisasi Pasar Inpres bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga untuk menjaga kelestarian kerajinan tradisional yang menjadi ciri khas pasar ini. Tapi, juga bisa terus berkembang agar menjadi tempat yang lebih nyaman dan menarik bagi pengunjung, serta lebih menguntungkan bagi pedagang.
"Dengan revitalisasi, kami berharap Pasar Inpres tidak hanya menjadi pusat ekonomi yang baik untuk daerah, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang menarik bagi masyarakat luas, aman dan nyaman," harapnya.
Untuk mencapai target PAD yang lebih tinggi, ia memandang, revitalisasi Pasar Inpres sebagai langkah yang sangat penting. Saat ini, beberapa upaya untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung dan pedagang juga sedang dilakukan secara bertahap. Normaniah menyebut, perbaikan sudah dimulai dengan pengerjaan semenisasi pada bagian parkir, perbaikan gazebo dan taman pasar.
"Revitalisasi pasar secara keseluruhan masih dalam tahap perencanaan, memang belum terwujud. Tapi, untuk tahun 2025, kami akan membangun dua toilet umum untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung," ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo