Analisis Kebutuhan Pelatihan Jadi Kunci, Sesuaikan Permintaan Industri, Cetak Tenaga Kerja Tersertifikasi 

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 16 Januari 2025 | 07:05 WIB
SERAPAN: Sektor kuliner menawarkan peluang ekonomi tinggi. BPVP Samarinda melihat itu dan menjadikannya salah satu program latihan lewat jurusan teknologi hasil pangan, sub kejuruan pembuatan roti.
SERAPAN: Sektor kuliner menawarkan peluang ekonomi tinggi. BPVP Samarinda melihat itu dan menjadikannya salah satu program latihan lewat jurusan teknologi hasil pangan, sub kejuruan pembuatan roti.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia terus mengalami perbaikan. Terlihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang turun. Secara nasional angkanya 4,91 persen menurut data terbaru, per Agustus 2024. Sementara angkatan kerja 152,11 juta orang, naik 4,40 juta orang dibandingkan Agustus 2023.

Sejalan dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) naik 1,15 persen poin secara tahunan atau year on year (yoy). Kondisi serupa juga terjadi di Kaltim, turun 0,17 poin dibanding Agustus 2023. Dengan tingkat TPT 5,14 persen dan TPAK naik 1,50 persen poin.

Namun TPT tersebut masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN karena Indonesia adalah negara populasi terbesar, disusul dengan adanya mismatch ketenagakerjaan yang mengakibatkan tingkat produktivitas tenaga kerja masih di bawah rata-rata ASEAN.

Sehingga berdampak pada kondisi pasar kerja, di mana sebenarnya ada atau tersedia lapangan kerja baik di dalam maupun luar negeri. Namun, belum bisa dimanfaatkan karena ada perbedaan kompetensi calon pekerja dan lowongan yang tersedia.

Untuk menciptakan tenaga kerja sesuai kompetensi atau kebutuhan, perlu ditingkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan. Termasuk yang dilakukan lewat Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda.

Meningkatkan kualitas dan relevansi pelatihan yang diselenggarakan, agar lulusannya dapat langsung terserap di dunia kerja. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat sinergi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dunia usaha dan industri.

“Tidak semua pelatihan digelar, tetap ada kurikulum. Meski sama-sama vokasi dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kami filter dulu apakah relate dengan industri yang ada di sini. Berkolaborasi dengan berbagai instansi, salah satu upayanya lewat training needs analysis (TNA) atau analisis kebutuhan pelatihan,” ungkap Kepala BPVP Samarinda Eka Cahyana Adi.

Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan yang sesuai dengan kondisi industri di wilayah Kalimantan Timur. Hasil TNA ini kemudian menjadi dasar dalam menyusun kurikulum dan menentukan jenis pelatihan yang akan diselenggarakan.

Terbaru, mereka lakukan TNA dengan perwakilan UMKM, beberapa waktu sebelumnya dengan perwakilan pariwisata dan industri kreatif. Terdekat, kepada siswa, mahasiswa hingga komunitas.

“Misal untuk bidang pariwisata, di sini baru ada tiga sub-kejuruan yaitu barista, housekeeping dan restaurant attendant. Sedangkan kebutuhannya banyak, contoh gardener. Itu ternyata butuh sekali. Tidak melulu soal perhotelan, tapi juga pelatihan lain. Supaya program kami ini sesuai dengan kebutuhan,” lanjut Eka.

Selain itu, BPVP Samarinda juga memberikan pembinaan dan bimbingan kepada para peserta pelatihan untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan. Tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Saat ini, diakui Eka jika pihaknya banyak permintaan dari perusahaan terkait pelatihan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja). Semua alumni pelatihan dari BPVP lulus dengan mengantongi sertifikasi. “Sedang digodok atau dibuat formatnya,” sambungnya.

Dia berharap, melalui berbagai upaya yang telah dilakukan, BPVP Samarinda dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Timur dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Pekerja Terampil pelatihan pekerja pembuat roti