KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Mempertahankan itu tak mudah. Itulah yang dilalui Tasya yang kini melanjutkan usaha amplang sang ayah setelah berpulang. Titik terendah saat pandemi, hingga mampu bangkit dan siap kepakkan sayap bisnis lebih tinggi.
Diceritakan Tasya, ayahnya yang bernama Taufik Rahmani memulai usaha olahan ikan sebelum 1992. Kala itu menjual kerupuk ikan. Resepnya dari sang kakek. Dijajakan dengan sistem keliling. Kala itu, kerupuk ikan dengan pinggiran merah adalah salah satu oleh-oleh khas Samarinda. Ingin kembangkan lebih, Taufik coba-coba belajar membuat amplang yang sama-sama dari ikan.
"Jadi memang di keluarga itu suka buat makanan. Almarhum kai itu suka utak-atik resep. Almarhum nenek juga. Nah, yang amplang itu dijualnya sistem titip. Di penginapan atau hotel-hotel kecil, jadi pemasaran awalnya di situ," ungkap Tasya.
Semakin berkembang, pada 2004 membuka toko pertama di Samarinda, tepatnya di Jalan Antasari. Menyusul di Balikpapan. "Lupa tepatnya kapan, pokoknya sekitar tahun 2010 ke atas. Sekarang di Balikpapan ada satu toko, di Samarinda ada dua toko," lanjutnya.
Produksi rutin seminggu sekali dengan kapasitas besar. Per produksi hasilkan sedikitnya seribu bungkus amplang. Dengan total ikan mentah 80-100 kilogram dalam sekali produksi. Jika momen libur, seminggu bisa hingga tiga kali produksi. "Kayak momen tahun baru kemarin, itu alhamdulillah ramai banget," beber Tasya.
Mulanya, dia konsisten menggunakan ikan pipih atau belida sebagai bahan baku utama. Namun, ada kebijakan dari dinas terkait jika harus ada batasan karena habitat ikan tersebut di alam yang mulai berkurang. "Lumayan susah dicari, jadi juga pakai ikan bulan-bulan, tenggiri sampai bandeng laki. Ada satu supplier yang sudah langganan dari zaman almarhum ayah, sampai sekarang dia yang suplai ikan," lanjut perempuan 23 tahun itu.
Sebagai generasi kedua penerus usaha, anak sulung itu mengaku sempat berada di titik nol. Apalagi pandemi yang datangnya berbarengan dengan kepergian sang ayah. Pendapatan tak ada sama sekali. Amplang yang identik dengan oleh-oleh tidak ada yang beli karena kebijakan lockdown dari pemerintah. Bahkan tokonya sempat beberapa waktu memilih untuk tutup.
"Kata ibu, ini kayak ngulang dari awal lagi. Apalagi saya masih kuliah saat itu, ilmu untuk mengembangkan usaha juga masih dasar. Jadi bingung dan pendapatan itu benar-benar nol banget. Perlahan mulai bangkit 2021, alhamdulillah karyawan-karyawan lama juga tetap setia. Sekarang total sekitar ada 13-14 karyawan," terangnya.
Bicara manajemen pemasaran, Tasya sudah jagonya. Sebab sejalan dengan jurusan kuliah yang dia pelajari. Kendala ada di mengelola keuangan, namun perlahan dia mulai paham. Bicara persaingan, juga dianggapnya biasa.
"Pesan almarhum, persaingan itu akan tetap ada namanya juga usaha. Yang penting tetap pertahankan kualitas dibanding kuantitas. Karena orang pasti akan lihat mana yang enak. Dari dulu juga sudah ada pembeli langganan, intinya tetap menjaga kepercayaan konsumen supaya enggak berpindah," lanjutnya.
Diakui jika pemasaran mulut ke mulut adalah yang membuat bisnis panjang umur. Dia berharap, usaha tersebut bisa terus tumbuh sebagai generasi kedua. Menyambut berbagai optimisme usaha ke depan. Termasuk dengan hadirnya IKN yang tentu akan menarik minta kunjungan lebih ke Kaltim. (bersambung)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo