KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pemkot Samarinda lewat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian berupaya menjaga stabilitas harga bahan pokok dengan menggelar gerakan pangan murah (GPM) di tujuh titik lokasi. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga yang biasa terjadi menjelang hari besar keagamaan, Ramadan dan Idulfitri.
"Kenaikan 10 persen itu wajar saja saat momen hari raya. Oleh karena itu, ketahanan pangan harus mengadakan gerakan pangan murah. Kecuali harga naik di atas 10 persen, baru kami adakan operasi pangan atau operasi pasar,” beber Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Samarinda Muhammad Darham, kemarin (25/2).
Pihaknya bekerja sama dengan produsen dan petani mitra untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan. "Kami minta ke produsen yang ada, minta langsung ke tangan pertama untuk suplai. Ini tujuannya untuk menjaga stabilitas harga," jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga wajar. Terutama pada momen-momen tertentu ketika harga pasar mengalami kenaikan signifikan seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN).
Ketersediaan bahan pokok di Samarinda dinilai aman karena posisi daerah tersebut sebagai sentral masuknya barang. "Otomatis kebutuhan Samarinda dulu terpenuhi, baru distribusi ke daerah lain. Yang rawan itu harga, makanya kita hubungi produsen,” lanjut Darham.
Operasi pasar murah akan digelar di tujuh titik di beberapa kelurahan di Samarinda. Kegiatan itu melibatkan petani mitra, distributor dan produsen. "Samarinda Ulu dalam minggu ini, jelang Ramadan, mereka minta duluan. Ini lagi rembuk untuk fiksasi," ungkapnya, Selasa (25/2).
Komoditas yang akan dijual di operasi pasar murah meliputi beras, gula, minyak goreng, daging ayam, telur, daging sapi segar dan beku, perikanan, serta sayur-sayuran dari binaan dinas terkait.
Darham menyadari potensi kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan. "Yang pasti ketersediaan bahan pokok aman karena kita pintu masuk, yang enggak aman harganya. Makanya itu yang perlu ditekankan. Makanya kami juga lakukan pendekatan-pendekatan untuk distributor, produsen,” sebutnya.
Khusus untuk komoditas cabai, yang memang langganan naik harga, dia melakukan pendekatan ekstra ke distributor. "Cuma ya memang terbatas, namanya pedagang enggak mau rugi. Sasarannya memang konsumen akhir, konsumen rumah tangga. Misal dari mereka kita dapat 50 kilogram, itu yang kita bagi rata lewat gerakan pangan murah,” sambungnya.
Darham menyebut akan menambah titik operasi pasar murah jika dirasa perlu. Faktor iklim juga menjadi perhatian, terutama untuk transportasi distribusi. "Kapal besar itu sudah komitmen dari Dinas Perhubungan, bahwa tidak ada halangan, walau badai tetap bisa untuk distribusi," tegasnya.
Kecuali faktor iklim tersebut berdampak langsung pada pertumbuhan komoditas. Itu yang tentu tidak bisa dihindari dan jadi salah satu pemicu kelangkaan barang akibat panen tidak maksimal. Dengan langkah-langkah itu, dia berharap dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok dan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo