KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pahitnya kerja keras yang tak dibayar selama setahun membuat Wahyu Pranata putar otak bagaimana caranya bertahan hidup. Dia coba menjualkan cireng pempek milik tetangganya di media sosial dan ternyata ramai peminat.
“Ternyata banyak yang meniru, jadi saya udahan. Coba lagi jual yang lain, jual stik balado, ramai lagi, ditiru lagi. Terus coba jual kue blackforest, eh ramai lagi, orang pada meniru lagi. Mereka jual bolu, tapi dibilang blackforest dan jatuhin harga jual,” beber Wahyu.
Akhirnya dia memilih fokus menjual aneka camilan pada 2015. “Kebetulan tetangga dekat rumah di Mugirejo, Lempake itu admin salah satu gudang snack di Samarinda. Jadi coba lah jual itu, eh ramai lagi. Sampai saya buka gudang sebelah rumah, kecil saja, 3x3 meter. Sempat dua tahunan lah sampai akhirnya pindah persis di sebelah toko ini, berawal dari tempat kecil,” kenang Wahyu saat ditemui di tokonya, Jalan Kedondong Dalam.
Dari situlah, usahanya Mr Snack Samarinda mulai dikenal. Sudah memiliki pamor di media sosial atau online, pembeli pun bisa datang dan memilih langsung camilan yang dimau. “Kecil saja, 3x3 meter juga tokonya. Ya mirip gudang, dari kayu. Tapi ramai alhamdulillah,” lanjut dia.
Dari toko itu dia berhasil kumpulkan modal. Pada 2020 membuka toko yang lebih besar yang berjarak kurang dari 10 meter tempat awal. Dibangun dua lantai, lantai dasar khusus untuk pembeli dan lebih leluasa berbelanja. Di atas, digunakan sebagai gudang dan tempat packing.
Seperti yang sudah disinggung di awal, perjalanan bisnisnya berliku. Saking ramainya, bahkan dia sempat dua kali disambangi aparat. “Enggak paham juga, aduh itu benar-benar ampun. Katanya usahanya saya enggak izin dan lain-lain. Padahal toko lain yang jual snack juga ada, kok enggak didatangin. Katanya saya yang paling ramai,” ucapnya.
Namun itu bukan penghalang. Wahyu justru semakin melebarkan sayap. Dia kini miliki puluhan reseller. Termasuk yang paling setia dari provinsi tetangga, Kalimantan Utara. Bahkan sejak awal tahun, sudah restock untuk persiapan Lebaran.
“Mereka bisa ambil sampai Rp 20 jutaan, itu banyak banget. Ratusan bal, satu bal itu 2-5 kilogram beratnya. Pengiriman luar daerah lain kayak ke Muara Badak, Bengalon, Muara Wahau, Kaubun, Barong Tongkok itu juga banyak. Pokoknya sebelum Ramadan itu sudah pada pesan mereka,” papar pria kelahiran 1992 itu.
Hampir seluruh daerah di Kaltim terdapat reseller usahanya. Dia bersyukur, bisa sampai di titik ini. Lebaran selalu jadi momen berkah buat dia dan belasan karyawan yang membantunya menjalankan usaha. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo