Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Benarkah Kebijakan Reciprocal Tariffs Bisa Memicu Perang Dagang Global? Simak Faktanya!

Dwi Puspitarini • Kamis, 3 April 2025 | 14:18 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

KALTIMPOST.ID, Sejak menjabat sebagai Presiden AS, Donald Trump dikenal dengan kebijakan ekonominya yang agresif.

Salah satu langkahnya yang paling kontroversial adalah penerapan Reciprocal Tariffs atau tarif timbal balik.

Kebijakan ini menuai banyak perdebatan, baik di dalam negeri AS maupun di panggung perdagangan global.

Trump berulang kali menegaskan bahwa negara-negara lain sudah terlalu lama "memanfaatkan" AS dengan mengenakan tarif tinggi pada produk-produk Amerika, sementara AS justru menetapkan tarif yang lebih rendah. Dengan Reciprocal Tariffs, ia ingin menyamakan perlakuan tersebut.

Apa Itu Reciprocal Tariffs?

Reciprocal Tariffs adalah kebijakan di mana AS menetapkan tarif impor dengan besaran yang sama seperti yang dikenakan negara lain terhadap produk-produk AS.

Contohnya, jika India mengenakan tarif 20 persen pada barang AS, maka AS akan membalas dengan tarif yang sama terhadap barang dari India.

Reciprocal tariffs AS.
Reciprocal tariffs AS.

Trump menyebut ini sebagai perdagangan yang adil, tetapi banyak pihak justru menilai kebijakan ini sebagai bentuk perang dagang terselubung yang dapat memperburuk hubungan ekonomi global.

 Baca Juga: Insinerator untuk Mengendalikan Sampah di Samarinda, Per Unit Harga Mesinnya Mencapai Miliaran

Dampak Kebijakan Reciprocal Tariffs Terhadap Perdagangan Dunia

  1. Harga Barang Naik, Konsumen Dirugikan

Kebijakan tarif timbal balik berpotensi menaikkan harga barang impor di AS. Misalnya, produk elektronik, pakaian, hingga bahan makanan yang berasal dari luar negeri bisa jadi lebih mahal. Akibatnya, daya beli masyarakat turun dan inflasi meningkat.

Jika harga terus naik, bukan hanya konsumen yang rugi, tetapi juga pelaku bisnis kecil dan menengah yang bergantung pada impor bahan baku.

 Baca Juga: Pantai Nipahnipah Tertib Parkir Pasca-Lebaran, Pengunjung Nyaman Berwisata

  1. Perang Dagang Global Tak Terhindarkan?

Negara-negara yang terkena dampak tarif Trump tentu tidak akan tinggal diam. Mereka bisa saja membalas dengan mengenakan tarif lebih tinggi terhadap barang-barang AS, yang akhirnya memperburuk ketegangan perdagangan global.

Sebagai contoh, ketika Trump menaikkan tarif terhadap produk China, Beijing pun langsung membalas dengan tarif tinggi terhadap barang-barang dari AS seperti kedelai dan otomotif.

  1. Industri AS Bisa Terpukul

Alih-alih menguntungkan industri dalam negeri, kebijakan ini justru bisa merugikan produsen AS yang mengandalkan ekspor. Jika negara-negara lain menerapkan tarif balasan, produk AS akan sulit bersaing di pasar global.

 Baca Juga: Selain Kejagung, LSM Guntur Desak DPR RI Gelar RDP, Tangani Dugaan Pencemaran Lingkungan di Mentawir, PPU

Apakah Reciprocal Tariffs Efektif?

Trump yakin kebijakan ini akan membantu AS keluar dari defisit perdagangan dan membuat industri dalam negeri lebih kuat. Namun, banyak ekonom berpendapat sebaliknya.

Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, bahkan menyebut kebijakan Trump ini sebagai "jalan menuju stagflasi—pertumbuhan melambat tetapi harga terus naik."

Pasar global juga semakin waspada terhadap langkah-langkah Trump ini.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah memperingatkan bahwa ketegangan perdagangan akibat tarif bisa menekan pertumbuhan ekonomi global hingga di bawah 3 persen. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#Reciprocal tariffs #Tarif impor AS #Kebijakan perdagangan AS #Apa Itu Reciprocal Tariffs #perang dagang global #Dampak Kebijakan Reciprocal Tariffs #donald trump