KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penyaluran kredit di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren positif pada triwulan IV 2024. Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh peningkatan kredit konsumsi, seiring dengan aktivitas konsumsi masyarakat yang meningkat tajam pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
"Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, serta penyediaan akomodasi makan dan minum," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.
Secara sektoral, kredit pertanian menjadi penyumbang pertumbuhan kredit terbesar. Hal itu juga sejalan dengan meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian, terutama di tengah masa panen kelapa sawit pada triwulan IV.
Dari sisi spasial, sebagian besar kabupaten/kota mencatatkan pertumbuhan kredit positif. Balikpapan dan Samarinda menjadi wilayah dengan pangsa penyaluran kredit tertinggi.
Di tengah pertumbuhan kredit yang menggembirakan, risiko kredit di Kaltim tetap terjaga rendah. Tingkat non-performing loan (NPL) pada triwulan IV 2024 bahkan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya.
"Rendahnya NPL ini tidak lepas dari penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik oleh perbankan," imbuhnya.
Kapasitas pendanaan perbankan di Kaltim juga semakin kuat dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang positif. DPK didominasi oleh nasabah perseorangan, yang mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan kepercayaan terhadap stabilitas keuangan.
Kinerja intermediasi perbankan di Kaltim juga mengalami peningkatan, dengan loan-to-deposit ratio (LDR) naik menjadi 113,96 persen dari 109,55 persen pada triwulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa perbankan semakin aktif menyalurkan kredit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Inklusivitas keuangan di Kaltim juga terus menunjukkan tren positif. Kredit UMKM dan pembiayaan syariah mencatatkan pertumbuhan yang sehat dengan risiko kredit yang rendah.
Pertumbuhan kredit yang positif, NPL yang rendah, dan peningkatan inklusi keuangan tersebut menjadi indikator positif bagi perekonomian Kaltim. (*)
Editor : Duito Susanto