KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kalimantan Timur (Kaltim) diprediksi mengalami peningkatan potensi luas panen jagung pipilan pada periode Februari hingga April 2025. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, luas panen jagung pada periode tersebut diperkirakan mencapai 99 hektare pada Februari, 117 hektare pada Maret, dan 122 hektare pada April.
Angka-angka itu merupakan proyeksi potensi berdasarkan hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung Januari 2025, dengan asumsi seluruh standing crop (tanaman yang siap panen) dipanen dalam bentuk pipilan.
"Luas panen jagung Februari-April 2025 adalah angka potensi dengan asumsi seluruh standing crop dipanen dalam bentuk pipilan," ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Sementara itu, produksi jagung pipilan kering di Kaltim pada Januari hingga April 2025 juga menunjukkan angka yang optimistis. Meskipun masih berstatus angka sementara, produksi jagung pada periode tersebut diperkirakan mencapai 1,33 ribu ton pada Januari, 0,67 ribu ton pada Februari, 0,83 ribu ton pada Maret, dan 0,83 ribu ton pada April.
"Angka produksi jagung Januari-April 2025 merupakan angka sementara karena masih mengandung potensi luas panen (Februari-April) dan menggunakan rata-rata produktivitas subround I 2020-2024," jelasnya.
BPS Kaltim juga mencatat angka tetap luas panen dan produksi jagung pipilan kering pada 2023 dan 2024. Pada 2023, luas panen jagung di Kaltim mencapai 1.868 hektare dan menurun 50,80 persen pada 2024 menjadi 919 hektare.
Penurunan juga terjadi pada produksi jagung pipilan kering kadar air 28 persen, pada 2023 tercatat 15,19 ribu ton. Sedangkan pada 2024, hanya 5,35 ribu ton. Turun 9,84 ribu ton atau 64,78 persen.
Data penurunan juga terdapat pada produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen. Pada 2023, produksinya mencapai 11,23 ribu ton. Turun 7,27 ribu ton pada 2024 menjadi hanya 3,96 ribu ton.
Meski terjadi penurunan signifikan, diharapkan proyeksi peningkatan potensi luas panen dan produksi jagung di Kaltim pada tahun 2025 diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi ketahanan pangan di Bumi Etam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo