KALTIMPOST.ID, Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump resmi menerapkan kebijakan tarif impor resiprokal terhadap produk dari 185 negara, termasuk Indonesia, mulai Rabu, 9 April 2025.
Keputusan yang tiba-tiba ini membuat banyak pelaku usaha Indonesia cemas. Namun, di tengah tekanan tersebut, ada beberapa komoditas ekspor utama yang masih menjadi andalan dan bahkan tetap bertahan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sejumlah produk Indonesia menunjukkan kinerja ekspor yang kuat ke Amerika Serikat, bahkan sebelum kebijakan tarif diberlakukan.
Baca Juga: Momen Lebaran, Kunjungan ke Pasar Kebun Sayur Balikpapan Naik 10 Persen
Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) tercatat sebagai penyumbang ekspor terbesar dengan nilai fantastis mencapai USD 4,18 miliar.
Produk ini termasuk dalam kategori yang kemungkinan besar tetap diminati AS karena bersifat strategis dan sulit diproduksi secara lokal.
Disusul oleh pakaian rajutan (HS 61) senilai USD 2,48 miliar, alas kaki (HS 64) senilai USD 2,39 miliar, dan pakaian non-rajut (HS 62) senilai USD 2,1 miliar. Ketiga sektor ini kini menjadi sorotan karena sangat rentan terhadap dampak tarif baru.
Baca Juga: Kepala Damkar Paser: CFD Tidak Masalah, Namun Parkir yang Perlu Ditertibkan
“Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memerhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Senin (7/4). Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terburu-buru mengambil langkah balasan, melainkan mengedepankan negosiasi dan dialog.
Yang menarik, beberapa barang Indonesia tidak masuk dalam daftar tarif Trump, seperti produk medis, bantuan kemanusiaan, semikonduktor, logam mulia, dan mineral strategis.
Ini memberikan napas bagi beberapa sektor industri untuk tetap tumbuh di tengah tekanan global.
Baca Juga: Bangun Cold Storage 120 Ton, Pemkot Samarinda Terus Perkuat Ketahanan Pangan Sektor Perikanan
Selain produk fesyen dan elektronik, ekspor seperti lemak dan minyak nabati (HS 15) mencapai USD 1,78 miliar, karet (HS 40) sebesar USD 1,68 miliar, serta ikan dan udang (HS 03) sebesar USD 1,09 miliar juga menunjukkan daya saing tinggi di pasar Amerika.
Berikut daftar lengkap komoditas ekspor utama Indonesia ke AS tahun 2024:
- Mesin dan perlengkapan elektrik: USD 4,18 miliar
- Pakaian rajutan: USD 2,48 miliar
- Alas kaki: USD 2,39 miliar
- Pakaian non-rajut: USD 2,1 miliar
- Lemak/minyak nabati: USD 1,78 miliar
- Karet dan produk karet: USD 1,68 miliar
- Perabotan rumah & lampu: USD 1,43 miliar
- Ikan dan udang: USD 1,09 miliar
- Mesin mekanis: USD 1,01 miliar
- Olahan daging dan ikan: USD 788 juta
- Kayu laminasi: USD 733 juta
- Kopi dan teh: USD 455 juta
- Kimia dasar organik: USD 415 juta
- Kendaraan dan aksesorinya: USD 254,8 juta
- Besi dan baja: USD 231 juta
Baca Juga: Andreas Alek Danantara Gantikan Supriyanto Jabat Kapolres PPU
Meski Indonesia dikenai tarif hingga 32 persen, masih ada peluang besar untuk mempertahankan posisi di pasar AS, terutama untuk produk-produk dengan nilai tambah tinggi dan kebutuhan jangka panjang.
Kebijakan Trump ini memang menjadi tantangan baru, tetapi sekaligus peluang untuk Indonesia mengevaluasi strategi ekspornya dan membuka dialog perdagangan yang lebih cerdas dan adil.
"Daripada membalas dengan tarif, kita ingin mencari solusi yang saling menguntungkan," ujar Airlangga. ***
Editor : Dwi Puspitarini