KALTIMPOST.ID, Setelah sempat dihantam badai dan dipaksa berhenti karena koreksi tajam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Pada Selasa pagi (8/4/2025), IHSG sempat terjun bebas hingga 9,19 persen sesaat setelah pasar dibuka, memaksa trading halt atau penghentian perdagangan selama 30 menit.
Kondisi ini terjadi tepat setelah libur panjang Lebaran 2025, di mana pasar finansial Indonesia tertidur sementara dunia sudah lebih dulu mengalami kepanikan akibat kebijakan baru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberlakukan tarif impor tinggi terhadap ratusan produk dari berbagai negara.
Namun yang mengejutkan, hanya dalam hitungan menit setelah perdagangan dibuka kembali, IHSG berhasil memangkas koreksinya menjadi "hanya" 7,7 persen, dan perlahan-lahan kembali merangkak ke posisi 6.008, angka yang secara psikologis memberikan harapan baru bagi pelaku pasar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi pagi itu sudah tembus Rp 6,7 triliun dengan volume 8,5 miliar lembar saham.
Dari ribuan transaksi yang terjadi, hanya sembilan saham yang sempat menguat, sementara lebih dari 550 saham terjerembab.
Aditya Jayaantara, Deputi Komisioner OJK, menegaskan bahwa penyesuaian kebijakan trading halt dari 5 persen menjadi 8 persen bukan hanya karena efek tarif Trump, tapi juga bentuk perlindungan terhadap investor.
Baca Juga: Ada Produk Ekspor Indonesia yang Tak Tersentuh Tarif Trump, Apa Saja?
“Kami ingin memastikan proses pembentukan harga tetap rasional. Investor harus merasa terlindungi, meski tetap bertanggung jawab,” ujar Aditya dalam konferensi pers di Gedung BEI.
Kebijakan ini mengacu pada praktik pasar modal di negara-negara lain, yang mengutamakan stabilitas dan ketenangan psikologis investor saat pasar mengalami guncangan ekstrem.
Menariknya, ketika IHSG baru dibuka dan langsung longsor, bursa saham Asia lainnya justru mulai menunjukkan pemulihan. Artinya, pasar Indonesia mungkin terlambat menyerap kekhawatiran global karena tertunda oleh masa libur panjang. ***
Editor : Dwi Puspitarini