Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Normalisasi Tarif Listrik hingga Permintaan Keperluan Pangan yang Tinggi Selama Lebaran Berkontribusi Besar pada Inflasi

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 9 April 2025 | 17:46 WIB
DAMPAK KEBIJAKAN: Tagihan listrik yang tinggi memicu inflasi.
DAMPAK KEBIJAKAN: Tagihan listrik yang tinggi memicu inflasi.

KALTIMPOST.ID-Inflasi di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) pada Maret 2025 menunjukkan tren kenaikan.

Peningkatan itu lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor. Termasuk tingginya permintaan pada periode Idulfitri dan berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik yang dikeluarkan pemerintah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, kenaikan inflasi itu juga dipengaruhi oleh normalisasi stimulus kebijakan pemerintah.

Khususnya terkait tarif tenaga listrik yang memiliki bobot konsumsi yang tinggi dalam penghitungan inflasi.

“Inflasi yang terjadi di Balikpapan dan PPU pada Maret 2025 ini memang lebih dipengaruhi oleh peningkatan permintaan menjelang Idulfitri dan kebijakan normalisasi tarif listrik,” jelasnya.

Selain itu, Robi mengingatkan ke depan, meski inflasi dipengaruhi oleh faktor musiman, ada risiko yang perlu diwaspadai.

“Peningkatan harga tetap perlu diwaspadai, terutama seiring dengan potensi cuaca buruk yang bisa memengaruhi ketersediaan stok sejumlah komoditas bahan pokok, di samping permintaan yang tetap tinggi,” lanjutnya.

Pada Maret 2025, beber dia, Indeks Harga Konsumen (IHK) Balikpapan tercatat mengalami inflasi sebesar 1,67 persen (month-to-month/mtm). Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan inflasi nasional sebesar 1,03 persen (yoy).

Secara tahunan, IHK Balikpapan mengalami inflasi sebesar 1,38 persen (year-on-year/yoy). Lebih tinggi dibandingkan dengan gabungan empat kota di Kaltim yang tercatat 1,36 persen (yoy).

Salah satu penyumbang terbesar inflasi di Balikpapan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,46 persen (mtm).

Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Balikpapan adalah tarif listrik, cabai rawit, udang basah, ikan layang, dan emas perhiasan.

Kenaikan tarif listrik seiring dengan berakhirnya kebijakan pemerintah yang memberikan diskon sebesar 50 persen untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA ke bawah pada Februari 2025.

Kenaikan harga cabai rawit juga dipengaruhi oleh pasokan yang menurun akibat curah hujan yang tinggi di daerah sentra produksi.

Sementara itu, peningkatan harga udang basah dan ikan layang didorong oleh permintaan yang tinggi selama periode Lebaran, di tengah terbatasnya hasil tangkapan nelayan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.

“Kenaikan harga komoditas ini sejalan dengan tren peningkatan permintaan pada saat Lebaran di tengah pasokan yang terbatas,” ucap Robi. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #tarif listrik #harga mahal #inflasi Balikpapan