KALTIMPOST.ID-Capaian positif dalam neraca perdagangan ditorehkan Balikpapan. Sebagaimana berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan. Neraca perdagangan kota ini pada Februari 2025 mengalami surplus sebesar USD 124,21 juta.
Keberhasilan itu tak lepas dari kinerja sektor non-migas yang mencatatkan surplus sebesar 330,08 juta dolar, meskipun sektor migas mengalami defisit sebesar 205,87 juta dolar.
Secara kumulatif, dalam periode Januari hingga Februari 2025, Balikpapan mencatat surplus perdagangan sebesar 222,27 juta dolar.
“Angka ini berasal dari surplus sektor non-migas yang mencapai 597,59 juta dolar, meski sektor migas tetap menunjukkan defisit sebesar USD 375,32 juta,” terang Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto.
Dia melanjutkan, bahwa angka surplus itu menjadi indikator penting bahwa Balikpapan memiliki daya saing ekspor yang kuat, terutama di sektor non-migas yang terus menunjukkan performa solid.
“Ya kita harapkan ada sinyal positif bagi perekonomian Balikpapan ke depan. Terutama menghadapi transformasi sebagai kota penyangga IKN (Ibu Kota Nusantara),” timpalnya.
Namun, di balik kabar tersebut, Kota Minyak juga mengalami lonjakan nilai impor yang cukup signifikan.
Pada Februari 2025, nilai impor tercatat sebesar USD 418,00 juta, naik 13,33 persen dibandingkan Januari 2025. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan impor non-migas sebesar 50,59 persen dan migas sebesar 1,22 persen.
Jika dibandingkan dengan Februari 2024, nilai impor meningkat tajam hingga 62,71 persen. Kenaikan itu utamanya dipicu oleh lonjakan impor minyak mentah (103 persen) dan hasil minyak (37,65 persen), meskipun impor gas justru turun 13,33 persen.
“Kenaikan impor ini juga tak lepas dari meningkatnya aktivitas industri dan pembangunan infrastruktur di Balikpapan. Itu juga menjadi refleksi dari pulihnya kegiatan ekonomi dan persiapan Balikpapan dalam mendukung pemindahan IKN,” lanjut Marinda.
Menariknya, peningkatan impor terbesar secara bulanan berasal dari Tiongkok yang melonjak 669,40 persen menjadi USD 37,50 juta.
Diikuti Nigeria dengan kenaikan 104,48 persen dan Singapura 37,44 persen. Sebaliknya, impor dari Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan hingga 57,73 persen.
Di sisi ekspor, Nigeria tetap menjadi negara tujuan utama dengan kontribusi 28,58 persen dari total ekspor Balikpapan, disusul Singapura (17,28 persen), dan Angola (9,71 persen).
Perkembangan itu menunjukkan bahwa meski impor meningkat, posisi ekspor Balikpapan tetap kokoh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kota ini.
“Dengan proyeksi peningkatan kebutuhan pembangunan IKN, Balikpapan akan terus memerlukan pasokan logistik dalam jumlah besar, serta banyaknya kegiatan ekspor dan impor yang juga semakin tinggi,” tutupnya. (rd)
ULIL MU'AWANAH
Editor : Romdani.