KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Daya tarik investasi reksadana di kalangan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) semakin menguat. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan jumlah investor reksadana yang stabil, dengan Balikpapan dan Samarinda masih menjadi kontributor utama.
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim-Kaltara, jumlah Single Investor Identification (SID) reksadana di Kaltim terus menunjukkan peningkatan.
"Jumlah investor reksadana pada Maret 2025 tercatat sebesar 235.728 SID atau meningkat sebesar 1,35 persen dibandingkan posisi Desember 2024," ungkap Kepala OJK Kaltim-Kaltara Parjiman.
Angka tersebut naik tipis dibandingkan posisi Desember 2024 yang mencapai 232.59 SID, namun menunjukkan tren pertumbuhan yang berkelanjutan sejak Desember 2021 (117.471 SID).
Meskipun jumlah investor terus bertambah, nilai penjualan reksadana di Kaltim cenderung fluktuatif. Setelah sempat menyentuh angka Rp 0,35 triliun pada Desember 2021, nilai penjualan tercatat stabil di angka Rp 0,25 triliun pada Desember 2024 dan Februari 2025.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor reksadana di Kaltim cenderung mempertahankan investasinya.
Dari sebaran wilayah, Balikpapan dan Samarinda masih mendominasi jumlah investor reksadana di Kaltim. "Penyumbang investor reksadana terbesar yaitu berada di Balikpapan dan Samarinda dengan jumlah masing-masing sebanyak 68.254 SID dan 64.513 SID," lanjut pria yang biasa disapa Jimmy itu.
Kontribusi signifikan dari kedua kota itu menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat urban terhadap diversifikasi investasi melalui reksadana.
Wilayah lain di Kaltim juga menunjukkan minat terhadap reksadana, meskipun dengan jumlah investor yang lebih kecil. Kutai Kartanegara mencatatkan 30.823 SID, Kutai Timur 15.829 SID, Bontang 15.545 SID, Berau 14.122 SID, Paser 10.462 SID, Penajam Paser Utara 8.704 SID, Kutai Barat 7.143 SID, dan Mahakam Ulu dengan 333 SID.
Nilai penjualan reksadana di Kaltim cenderung fluktuatif. Setelah sempat menyentuh angka Rp 0,35 triliun pada Desember 2021, nilai penjualan reksadana tercatat sebesar Rp 0,25 triliun pada Februari 2025.
Meskipun demikian, jumlah investor yang terus bertambah menunjukkan bahwa reksadana tetap menjadi pilihan investasi yang menarik bagi sebagian masyarakat Kaltim.
Pertumbuhan investor reksadana yang stabil di Kaltim menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami potensi reksadana sebagai alternatif investasi yang relatif terjangkau dan terdiversifikasi. Dominasi Balikpapan dan Samarinda sejalan dengan tingkat literasi keuangan dan akses terhadap produk investasi yang lebih tinggi di wilayah perkotaan.
Jimmy menyampaikan pihaknya terus mendorong peningkatan literasi keuangan di seluruh wilayah Kaltim agar semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat dan risiko investasi, termasuk reksadana. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan masyarakat dapat mengambil keputusan investasi yang lebih tepat sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka. (*)
Editor : Duito Susanto