KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sepanjang 2024, dompet warga Kalimantan Timur (Kaltim) dibuat berdebar-debar oleh fluktuasi harga bulanan sejumlah komoditas.
Survei Harga Konsumen (SHK) mencatat, ikan layang/ikan benggol dan emas perhiasan menjadi "aktor" utama yang paling sering memicu inflasi bulanan (month-to-month/mtm).
Keduanya tercatat enam kali nongol dalam daftar lima besar penyumbang inflasi bulanan. "Harga ikan memang sangat tergantung sama musim tangkap dan cuaca di laut. Kalau emas, ya namanya juga investasi dan perhiasan, permintaannya bisa melonjak tiba-tiba apalagi pas ada perayaan," beber Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Selain dua komoditas tersebut, bawang merah dan kangkung juga cukup sering membuat harga-harga merangkak naik. Masing-masing tercatat lima kali menjadi penyumbang inflasi bulanan. "Menunjukkan sensitivitas terhadap cuaca dan distribusi pasokan," lanjut dia.
Tomat, daging ayam ras, dan angkutan udara juga tak kalah sering memberikan andil inflasi bulanan. Masing-masing muncul sebanyak empat kali. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran komoditas pangan dan jasa transportasi dalam dinamika inflasi bulanan di Kaltim.
Harga tomat yang fluktuatif, permintaan daging ayam yang stabil tinggi, serta tarif angkutan udara yang bisa berubah sewaktu-waktu menjadi faktor-faktor yang patut diperhatikan.
Tingginya frekuensi kemunculan komoditas-komoditas tersebut dalam daftar penyumbang inflasi bulanan menggarisbawahi perlunya pemantauan harga yang lebih intensif dan kebijakan stabilisasi yang tepat sasaran.
Baca Juga: Menteri Bahlil Dorong PHM Mampu Meningkatkan Produksi Migas dari Lapangan Tua
"Dinamika inflasi bulanan di Kaltim sepanjang 2024 mencerminkan kompleksitas faktor yang memengaruhi harga, baik dari sisi pangan, energi, maupun jasa," ungkapnya.
Pemerintah daerah perlu lebih jeli melihat pola pergerakan harga komoditas-komoditas "langganan" penyumbang inflasi tersebut.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai komoditas-komoditas yang paling sering memicu inflasi bulanan, diharapkan pemerintah dapat merancang langkah-langkah antisipasi yang lebih efektif untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat Kaltim. (*)
Editor : Ery Supriyadi