KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tak pernah terbesit sebelumnya dibenak Nurul Ahnadiah akan meracik ramuan herbal. Sebelumnya ia hanya ibu rumah tangga biasa dengan kesibukan mengurus anak di rumah. Tapi setelah mengikuti pelatihan dan didukung Womenpreneur, Nurul berani kembangkan minuman kesehatan berbasis bawang dayak yang kini menembus pasar ekspor.
Perempuan kelahiran 1988 membuktikan bahwa niat melestarikan kearifan lokal bisa menjelma menjadi bisnis berkelanjutan. Usaha yang ia rintis sejak November 2019 itu kini berkembang menjadi PT Bungas Food Nusantara dengan produk unggulan: minuman berbahan dasar bawang dayak. “Awalnya cuma satu liter bahan dan modal Rp 7 juta. Saya buat sendiri, semua formula saya racik dari nol,” kata Nurul.
Bawang dayak bukan bahan baru di tanah Borneo. Namun, menurut Nurul, sudah jarang yang menggunakannya. Bahkan ketika ia memulai usaha, petani lokal enggan menanam kembali karena pengalaman panen yang sia-sia. “Pernah panen raya, tapi busuk di gudang. Enggak ada yang beli,” ujarnya.
Nurul tak menyerah. Ia bereksperimen selama berbulan-bulan hingga menemukan rasa yang pas dan bisa diterima pasar. Dari situ lahir produk seperti Wedang Dayak Teabag Series, Wedang Dayak Instan, Coffee Plus Pasak Bumi, dan varian siap minum ready to drink.
Produknya lahir bersamaan dengan munculnya pandemi. DI momen itu kesadaran publik akan pentingnya imunitas meningkat dan produk herbalnya mulai dilirik. Ia memperkuat jejaring, bergabung dalam komunitas wirausaha perempuan dan aktif mengikuti program inkubasi bisnis.
Pada 2020, PT Bungas mulai bermitra dengan toko oleh-oleh dan pelaku wisata lokal. Setahun kemudian, mereka mendapat penghargaan The Best Product dari Kemenparekraf. Momentum ini membawa usaha Nurul menjangkau mitra dari 12 institusi, termasuk sekolah dan perusahaan, dan menembus ekspor ke Singapura, Malaysia, serta Brunei Darussalam.
“Kami ekspor mandiri, tak lewat trader. Sudah punya PEB (pemberitahuan ekspor barang, Red) sendiri,” ujarnya bangga. Volume ekspor memang belum besar, baru sekitar 10 kilogram per pengiriman. Tapi bagi Nurul, pencapaian ini punya makna simbolis. “Ini bukan sekadar usaha saya. Ini doa-doa para petani yang ingin produknya kembali hidup,” terangnya.
Kini PT Bungas telah menggandeng delapan petani bawang dayak lokal dan mempekerjakan tujuh karyawan. Mereka bermitra dengan 26 toko oleh-oleh dan tiga lokasi wisata mangrove di Kalimantan. Nurul juga masih terus mengurus perizinan dari BPOM dan sertifikasi lainnya untuk memperluas pasar.
“Yang penting, kami tetap jalan. Perlahan tapi pasti,” tuturnya. Bagi Nurul, pelestarian kearifan lokal, pemberdayaan perempuan, dan keberlanjutan usaha tak bisa dipisahkan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo