KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Konten membuka hadiah peralatan dari keluarga untuk anak pertamanya jadi titik awal Nanda Kusuma Wardani menapaki dunia affiliate marketing. Ibu rumah tangga anak satu dari Samarinda ini tak pernah menyangka bahwa aktivitas iseng mengunggah video unboxing barang-barang anak di Instagram bisa mengantarnya ke pundi-pundi rupiah.
“Saya mulai serius affiliate itu sekitar Juli 2022,” kata Nanda saat ditemui Kaltim Post, Kamis (1/5). Ia bercerita, awalnya hanya suka membuat konten anak bermain untuk dibagikan ke Instagram. Belum ada niat serius, apalagi mengejar penghasilan.
Hingga suatu hari, ia melihat unggahan seorang ibu yang membagikan hasil pendapatan dari program afiliasi Shopee. “Dia bilang penghasilannya lumayan. Dari situ saya mulai penasaran,” ujarnya.
Nanda lalu mencari tahu tentang program afiliasi, sistem pemasaran digital di mana seseorang bisa mendapatkan komisi dari setiap pembelian produk lewat tautan yang dibagikannya.
Informasi ia gali secara otodidak, terutama dari YouTube. “Awalnya saya belajar sendiri. Gimana cara daftar affiliate, bikin video, semua dari YouTube,” kata dia.
Barang-barang yang digunakan untuk konten pun sederhana. Ia membuka kembali perlengkapan bayi yang pernah dibeli dan dihadiahi, merekam ulasan singkat, lalu menautkan link pembelian di deskripsi. Satu demi satu, penonton berdatangan, terutama dari kalangan ibu muda, segmen yang sama seperti dirinya.
Berbekal konsistensi membuat konten, penghasilan pun mulai masuk. Di bulan-bulan pertama, komisi yang diperoleh Nanda hanya sekitar Rp 2 ribu. “Tapi tetap saya jalani. Namanya juga belajar,” tuturnya sambil tertawa.
Tiga bulan kemudian, hasil kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Beberapa merek mulai menghubunginya untuk kerja sama endorsement, terutama produk-produk anak seperti minyak telon, pakaian, hingga skincare bayi. Dari situ pula, jumlah pengikut Instagram-nya meningkat pesat. Kini, akun miliknya sudah diikuti lebih dari 17 ribu orang.
Yang menarik, sebagian besar barang yang digunakan anaknya hingga kini bukan hasil beli, melainkan pemberian dari sponsor. “Selama saya buat konten barang anak, 80 persen barangnya dapat dari endorse,” katanya.
Kini, selain di Instagram, Nanda juga aktif di platform Shopee Video, fitur belanja berbasis konten singkat dari e-commerce tersebut. Di sana, ia menjadwalkan unggahan tiga video per hari. Sedangkan di Instagram, ia cukup konsisten mengunggah tiga konten per minggu.
“Kalau di Shopee Video itu lebih teknikal, karena ada sistem keranjang produk langsung di video. Jadi peluang diklik dan dibeli orang lebih besar,” kata dia.
Penghasilan dari affiliate mencapai kisaran Rp5 juta per bulan. Belum lagi hasil endorse Instagram, Nanda mengakui bisa lebih banyak hasil yang didapatkan dari affiliate. Jika dijumlah hasilnya sangat cukup berarti bagi seorang ibu rumah tangga tanpa pekerjaan formal. “Cukup banget buat jajan sendiri,” ujarnya.
Namun Nanda menyadari, penghasilan dari dunia digital semacam ini tak selalu stabil. Komisi dari affiliate sangat tergantung pada performa video, tren barang dan algoritma platform. Karena itu, ia tak ingin menggantungkan hidup sepenuhnya dari sini. “Kalau ada kerjaan tetap yang lebih pasti, mungkin saya ambil. Affiliate ini tetap saya jalani, tapi sebagai sampingan saja,” ucapnya.
Meski begitu, Nanda melihat dunia afiliasi masih sangat terbuka. Modal yang dibutuhkan minim, bahkan hampir tanpa modal jika tahu cara memanfaatkan barang-barang yang sudah ada. “Misalnya kita beli sabun atau garam, itu juga bisa kita afiliate-kan. Yang penting bisa nyari link-nya,” ujarnya.
Ia mengaku konten dapur dan rumah tangga kini mulai jadi fokusnya saat ini, mengikuti perkembangan usia anaknya yang sudah menginjak lima tahun. “Kalau dulu barang bayi, karena anak saya sudah bukan bayi lagi. Sekarang segmennya home living dan masak. Menyesuaikan saja,” ujarnya.
Tak ada admin, tak ada tim produksi. Semua konten masih ia kelola sendiri, dari syuting, edit, sampai upload. Namun Nanda justru merasa itu menjadi keunikan dan keunggulannya. “Justru karena real, penontonnya jadi relate (organik),” ujarnya.
Hasil yang didapatkan Nanda jadi bukti bahwa ruang digital bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan, asal dijalani dengan konsisten dan strategi yang tepat. “Orang suka bilang ngapain sih video-videoin barang di rumah, kelihatannya kayak iseng. Tapi ternyata ada duitnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo