KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Percakapan santai mengalir di ruang rapat PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA), Selasa (6/5). Manajemen Kaltim Post Group yang dipimpin langsung oleh CEO Ivan Firdaus mengunjungi kantor sekaligus pabrik SBMA yang berada di Balikpapan Timur tersebut. Silaturahmi itu dalam rangka mempererat hubungan kerja sama antara media dan industri.
Ivan Firdaus mengapresiasi penerimaan hangat dari jajaran direksi SBMA. Ia menyebut hubungan antara Kaltim Post Group dan SBMA selama ini telah berjalan dengan baik dan saling mendukung. “SBMA adalah salah satu mitra kami. Di mana SBMA juga sangat mendukung kegiatan dari Kaltim Post Group,” tutur Ivan di sela-sela kegiatan.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Komisaris Utama SBMA Effendi, didampingi Komisaris Independen SBMA Slamet Brotosiswoyo, Wakil Direktur Utama Welly Sumanteri, Komisaris Dinawati, serta Direktur Operasional Julianto Setyoadji.
“Ini kali pertama kami menerima kunjungan dari manajemen media dalam jumlah besar seperti ini. Tentu ini bentuk kehormatan bagi kami dan menjadi langkah awal untuk menjalin kerja sama yang lebih luas ke depannya,” ungkap Effendi dengan nada optimistis.
Baca Juga: PT SBMA Targetkan ISO 17025, Operasikan Laboratorium Gas hingga Perluas Stasiun Pengisian
Ia pun menegaskan pentingnya kolaborasi antara sektor industri dan media di tengah dinamika pembangunan Kalimantan. SBMA sendiri bukanlah pemain baru di industri gas industri dan medis. Didirikan pada 1980 sebagai PT Surya Acetylene, perusahaan ini resmi berganti nama menjadi PT Surya Biru Murni Acetylene pada 1982 seiring berdirinya pabrik acetylene pertamanya.
Sejak saat itu, SBMA terus berekspansi memasuki pasar gas oksigen pada 1991 dan mendirikan pabrik oksigen di 1995. Langkah ekspansi SBMA tak berhenti di situ. Pada 2002 mereka menambah lini produksi dengan filling station gas argon. Pada 2024, pembangunan pabrik oksigen kembali dilakukan, sejalan dengan peningkatan kebutuhan gas industri dan medis.
Bahkan, SBMA berani memproyeksikan pengembangan pabrik oxygen dan nitrogen pada 2028. Momentum penting juga terjadi pada 2021 ketika SBMA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Dua tahun berselang, perusahaan membuka filling station oxygen di Bontang dan mengembangkan pabrik di Tarakan.
Saat ini, SBM mengklaim memiliki hub terbesar di Kalimantan. “Kami melihat Kalimantan sebagai pusat energi dan industri baru. Dengan rencana pemerintah mendorong hilirisasi dan infrastruktur energi, kami berkomitmen memperluas pasar dan menyerap tenaga kerja lokal,” ungkap Slamet Brotosiswoyo.
Ia menambahkan bahwa SBMA bukan hanya menyuplai kebutuhan industri, tapi juga berperan dalam keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi daerah. “Kami mengelola limbah secara berkelanjutan dan turut menyumbang pajak serta pendapatan negara. Ini bentuk kontribusi nyata kami bagi Indonesia,” tambahnya.
Kunjungan ditutup dengan pemberian cendera mata berupa karikatur dari manajemen Kaltim Post kepada pihak SBMA, disusul dengan tur singkat ke area pabrik SBMA. (*)
Editor : Muhammad Rizki