KALTIMPOST.id — Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalami penurunan tajam hingga 5,60% ke level 2.530 pada perdagangan hari ini, Rabu, 14 Mei 2025.
Ini menjadikannya salah satu saham yang paling tertekan di indeks hari ini.
Data yang dikutip kaltimpost.id dari platform Stockbit menunjukkan penurunan sebesar 150 poin ini terjadi di tengah volume transaksi yang melonjak hingga 252,71 juta saham, jauh di atas rata-rata hariannya (155 juta saham).
Harga ANTM Anjlok Sejak Pagi
Dari grafik intraday, tekanan jual terhadap saham ANTM sudah terjadi sejak pembukaan pasar.
Harga sempat dibuka di 2.620, namun langsung melemah tajam hingga menyentuh low di 2.460 sebelum sedikit pulih menjelang tengah hari.
Data frekuensi perdagangan menunjukkan tekanan kuat di sisi penawaran (offer), dengan rata-rata harga jual lebih tinggi dari harga bid.
Di sisi broker summary, terlihat bahwa broker TP, XL, dan ZP menjadi pelaku beli terbesar dalam sepekan terakhir, sedangkan BB, NI, dan EP mendominasi sisi jual, menandakan adanya potensi distribusi dari investor institusi.
Kinerja Bulanan Masih Positif
Meski hari ini melemah tajam, secara bulanan saham ANTM masih mencatat kenaikan sebesar 38,80% dalam satu bulan terakhir, dari sekitar 1.830 ke 2.540.
Hal ini mencerminkan bahwa koreksi hari ini bisa jadi merupakan aksi ambil untung (profit taking) pasca reli yang cukup agresif sejak pertengahan April.
Pengaruh Harga Emas Global
Sebagai emiten tambang logam mulia, pergerakan saham ANTM sangat erat kaitannya dengan harga emas dunia.
Menurut data yang dikutip dari Kitco, harga emas global mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir, turun dari level USD 2.360 per troy ounce menjadi sekitar USD 2.310 akibat penguatan indeks dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi di AS yang bertahan lebih lama.
Kondisi ini memicu aksi jual di saham-saham tambang logam, termasuk ANTM, yang portofolio bisnisnya bergantung pada penjualan nikel, emas, dan logam lainnya.
Sentimen Global dan Outlook ke Depan
Penurunan saham ANTM juga terjadi di tengah ketidakpastian pasar global, termasuk kekhawatiran investor terhadap potensi resesi ringan di Eropa dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas komoditas.
Namun demikian, outlook jangka menengah untuk ANTM masih cukup menarik.
Permintaan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik terus meningkat, dan pemerintah Indonesia tetap konsisten dalam mendorong hilirisasi tambang — yang dapat memberikan katalis positif untuk emiten seperti ANTM.
Penurunan saham ANTM hari ini bisa dilihat sebagai koreksi teknikal setelah kenaikan tajam dalam satu bulan terakhir.
Meski harga emas dunia sedang dalam tekanan, tren jangka panjang ANTM masih ditopang oleh sentimen positif dari transisi energi global dan strategi hilirisasi pemerintah.
Investor jangka panjang disarankan mencermati area support di kisaran 2.480–2.500 sebelum mengambil posisi. (*)
Editor : Erwin D. Nugroho