KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang menjadi tolok ukur kesejahteraan mereka, tercatat berada di angka 145,58.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa para petani di enam kabupaten sentra, yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara, menikmati surplus alias kenaikan daya beli yang cukup signifikan.
Hasil survei harga yang dilakukan di enam kabupaten tersebut menunjukkan bahwa harga jual hasil panen mereka melambung lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari maupun sarana produksi.
Jika ditarik garis lurus ke belakang, performa NTP April 2025 bahkan 5,67 persen lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada bulan yang sama tahun lalu. Hal itu menjadi angin segar bagi perekonomian di wilayah perdesaan.
Namun, dinamika pasar memang tak bisa ditebak. “Jika dibandingkan dengan Maret 2025, NTP April tahun ini mengalami sedikit koreksi, yakni turun tipis sebesar 2,25 persen,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Usut punya usut, penurunan disebabkan menyusutnya indeks harga hasil produksi pertanian sebesar 1,53 persen.
Di sisi lain, indeks harga yang harus dibayar petani justru merangkak naik 0,73 persen. Kenaikan itu meliputi pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, biaya produksi seperti pupuk dan bibit, hingga penambahan modal usaha.
Lebih detail lagi, dari lima subsektor pertanian yang dipantau, tiga di antaranya harus menelan pil pahit penurunan NTP.
“Subsektor hortikultura tercatat mengalami penurunan sebesar 2,27 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat yang merosot lebih dalam hingga 3,53 persen, serta subsektor peternakan yang juga terkoreksi 1,06 persen,” lanjutnya.
Namun, secercah harapan masih terpancar dari dua subsektor lainnya. Subsektor tanaman pangan, yang menjadi andalan pemenuhan kebutuhan pokok, justru menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,19 persen.
Begitu pula dengan subsektor perikanan yang mampu mencatatkan pertumbuhan NTP 1 persen.
Meskipun secara tahunan performa petani masih cukup kuat, fluktuasi harga komoditas pertanian dan kenaikan biaya produksi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Stabilisasi harga dan upaya menekan biaya produksi menjadi kunci untuk menjaga daya beli petani tetap tinggi dan berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat di pelosok Kaltim.
Editor : Dwi Restu A