KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kabar campur aduk menghampiri petani Kaltim pada April. Petani tanaman pangan bisa sedikit tersenyum lebar, tapi nasib petani hortikultura dan perkebunan rakyat justru kurang mujur.
Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) pada April 2025 tercatat sebesar 100,76 atau naik tipis 0,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kenaikan disebabkan naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,98 persen, yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya 0,79 persen,” papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Kenaikan It pada subsektor tanaman pangan didorong melonjaknya harga padi sebesar 1,31 persen. Sayangnya, harga palawija justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,03 persen.
Sementara itu, Ib pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga dan Biaya Produksi dan Pembentukan Barang Modal (BPPBM) juga ikut terkerek naik masing-masing sebesar 0,98 persen dan 0,28 persen.
Kondisi berbanding terbalik dialami petani hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat. “Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) pada April 2025 tercatat 124,38, turun sebesar 2,27 persen dibandingkan Maret 2025,” lanjutnya.
Penyebab utama penurunan adalah anjloknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,36 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik 0,94 persen.
Lebih detail, seluruh kelompok komoditas hortikultura mengalami penurunan harga jual. Penurunan terdalam dialami tanaman obat-obatan (2,47 persen), disusul sayur-sayuran (1,91 persen), dan buah-buahan (0,52 persen). Di sisi lain, pengeluaran petani hortikultura untuk Konsumsi Rumah Tangga naik 1,06 persen dan untuk BPPBM naik 0,09 persen.
Nasib serupa juga dialami petani tanaman perkebunan rakyat. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) tercatat 203,15, turun signifikan sebesar 3,53 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal itu karena turunnya It sebesar 2,90 persen, sementara Ib naik 0,66 persen. Menariknya, meskipun mengalami penurunan, NTPR masih menjadi yang tertinggi di antara seluruh subsektor pertanian.
“Kenaikan Ib pada subsektor tersebut didorong oleh naiknya biaya Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,94 persen, meskipun BPPBM justru sedikit turun 0,01 persen,” ungkap Yusniar.
Petani peternakan juga harus menghadapi penurunan nilai tukar. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) pada April 2025 tercatat 106,00, turun 1,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya It sebesar 0,12 persen, sementara Ib naik cukup signifikan sebesar 0,95 persen.
Secara kelompok, harga jual unggas dan hasil-hasil ternak/unggas mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,75 persen dan 0,61 persen. Kenaikan harga justru terjadi pada ternak besar (1,22 persen) dan ternak kecil (1,05 persen). Sementara itu, biaya Konsumsi Rumah Tangga dan BPPBM peternak juga ikut naik masing-masing sebesar 0,96 persen dan 0,93 persen.
Kabar baik juga datang dari sektor perikanan. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) pada April 2025 tercatat 101,57 atau naik 1,00 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan didorong oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,45 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,45 persen.
“Kenaikan harga jual terjadi di seluruh kelompok perikanan, baik perikanan tangkap (0,71 persen) maupun perikanan budidaya (3,04 persen).
Sementara itu, biaya Konsumsi Rumah Tangga nelayan dan pembudidaya ikan naik 0,83 persen, namun BPPBM justru mengalami penurunan sebesar 0,34 persen,” jelasnya.
Editor : Dwi Restu A