Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Seluruh Kalimantan Merah! Nilai Tukar Petani Kompak Turun

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 21 Mei 2025 | 13:59 WIB
SELURUHNYA: Selain tanaman perkebunan rakyat yang catatkan penurunan terdalam yakni 2,89 persen, hortikultura mengekor di belakangnya yang turun 1,45 persen.
SELURUHNYA: Selain tanaman perkebunan rakyat yang catatkan penurunan terdalam yakni 2,89 persen, hortikultura mengekor di belakangnya yang turun 1,45 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) edisi April 2025, dan hasilnya bikin dahi berkerut. Bagaimana tidak, dari 38 provinsi yang dihitung, mayoritas, tepatnya 31 provinsi, kompak mencatatkan penurunan NTP. Sebuah sinyal kurang menggembirakan bagi sektor agraris Tanah Air.

Papua Tengah boleh sedikit bernapas lega lantaran menjadi jawara dengan kenaikan NTP tertinggi, yakni 0,63 persen. Namun, pilu datang dari Bengkulu yang harus alami penurunan NTP terdalam, mencapai 7,23 persen! Angka yang cukup signifikan dan tentu saja memukul kondisi perekonomian petani di sana.

Lantas, bagaimana dengan kondisi di Pulau Kalimantan? Rupanya, Bumi Borneo juga tak luput dari tren negatif tersebut. Lima provinsi di Kalimantan serempak mencatatkan penurunan NTP.

Kalimantan Selatan menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan mencapai 4,77 persen. Menyusul di belakangnya adalah Kalimantan Timur dengan penurunan 2,25 persen.

“Kalimantan Tengah 1,01 persen, Kalimantan Barat 0,46 persen, dan Kalimantan Utara sebesar 0,28 persen. Dengan demikian, NTP secara nasional pun ikut tergerus, merosot sebesar 2,15 persen,” ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.

Tak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pun ikut-ikutan melemah. “Pada April 2025, NTUP tercatat sebesar 152,62, atau turun 1,68 persen dibandingkan Maret 2025 yang masih berada di angka 155,23,” sebutnya.

Penurunan disinyalir kuat lantaran Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami penurunan sebesar 1,53 persen. Ironisnya, di saat yang sama, Indeks Biaya Produksi dan Pembentukan Barang Modal (BPPBM) justru merangkak naik sebesar 0,15 persen.

Jika ditelisik lebih dalam per subsektor, tiga di antaranya mengalami penurunan NTUP. Subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi yang paling terpukul dengan penurunan mencapai 2,89 persen.

“Diikuti oleh subsektor hortikultura yang turun 1,45 persen, dan subsektor peternakan yang turun 1,04 persen,” lanjutnya.

Namun, di tengah kabar kurang sedap ini, masih ada secercah harapan dari subsektor tanaman pangan yang mencatatkan kenaikan NTUP sebesar 0,70 persen, serta subsektor perikanan yang bahkan melesat dengan kenaikan 1,80 persen.

Meski mayoritas mengalami penurunan, patut dicatat bahwa NTUP pada lima subsektor masih memiliki nilai rasio di atas 100. Mengindikasikan bahwa secara umum, harga jual produk pertanian yang diterima petani masih lebih tinggi kenaikannya dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan untuk keperluan produksi jika dibandingkan dengan tahun dasar 2018. (*)

Editor : Duito Susanto