KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pasar makanan beku di Indonesia tengah menanjak. Data dari Mordor Intelligence mencatat, nilai pasar frozen food diperkirakan melonjak dari USD 1,93 miliar pada 2023 menjadi USD 2,78 miliar pada 2028.
Angka itu mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 7,5 persen. Lonjakan ini dipicu perubahan gaya hidup masyarakat urban yang semakin sibuk dan cenderung memilih makanan yang cepat, praktis, namun tetap sehat.
Melihat peluang itu, Fahrian Ahyar, pemilik usaha Infus Gorengan di Samarinda tak ingin ketinggalan. Ia mulai mengembangkan produk gorengan khas Indonesia dalam bentuk beku alias frozen. “Konsep ini terinspirasi dari pola pikir dagang komunitas Tionghoa yang menjual produk tahan lama. Kami adopsi itu ke dalam gorengan,” ujar Fahrian, Rabu (21/5).
Infus Gorengan merupakan usaha yang masih terbilang anyar, hadir pada Februari 2025 dengan visi menjadikan gorengan lokal sebagai produk yang bisa dinikmati kapan saja, bahkan lintas kota dan negara. Strateginya sederhana namun ambisius, mengemas gorengan menjadi makanan beku yang tahan lama, higienis dan mudah disiapkan di rumah.
Saat ini, Infus Gorengan memiliki lebih dari 10 varian produk, dari tahu walik, tahu bakso, tahu sayur, lumpia sayur, cireng, otak-otak, tofu, sampa pangsit. Produknya disiapkan dalam dua konsep yakni digoreng langsung di outlet dan versi frozen yang bisa dibawa pulang. Meski varian frozen belum resmi dikomersialkan, Fahrian mengaku banyak peminat.
“Tapi kami belum launching resmi. Masih uji pasar. Kami ingin tahu dulu mana produk yang betul-betul layak produksi massal,” jelasnya. Dalam empat bulan terakhir, tiga outlet Infus Gorengan sudah mencetak omzet rata-rata Rp 11 juta hingga Rp 15 juta per bulan.
Semua produk diolah dari dapur produksi sendiri yang memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, janda, hingga duda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. “Kami bukan hanya soal untung, tapi juga membuka jalan penghidupan,” ucapnya.
Langkah konservatif dalam peluncuran frozen food bukan tanpa alasan. Selain riset rasa dan ketahanan produk, keterbatasan alat produksi menjadi penghambat. Fahrian menargetkan perluasan ke mini market baru dilakukan setelah mencapai 10 outlet di Samarinda. “Kami sedang bangun fondasi dulu. Kalau sudah kuat, baru kami ekspansi ke Alfamidi, Alfamart, atau Era Mart,” tuturnya.
Saat ini, frozen food Infus Gorengan bisa bertahan hingga tiga bulan di freezer, meski waktu idealnya dua bulan agar kualitas rasa tetap maksimal. Semua produk juga sedang dalam proses perizinan BPOM dan sertifikasi halal. “Halalnya sudah keluar, BPOM menyusul,” ujar Fahrian.
Model bisnis Infus Gorengan terbilang hybrid. Di outlet, pengunjung bisa menikmati gorengan fresh yang baru digoreng di tempat. Tapi di balik dapurnya, tersedia stok frozen untuk suplai outlet atau pelanggan yang ingin stok di rumah. “Kami edukasi masyarakat bahwa gorengan pun bisa disiapkan tanpa ribet di rumah, tapi tetap enak dan bersih,” katanya.
Branding produk dilakukan Fahrian secara perlahan tapi menyasar segmen muda. Salah satunya melalui seminar kewirausahaan di kampus. “Baru saja saya isi seminar di FKIP Unmul. Di situ saya selipkan edukasi tentang brand ini juga,” ujarnya.
Meski masih merintis, Fahrian optimistis konsep ini bisa tumbuh dan memberi dampak lebih luas. “Kami ingin Infus Gorengan dikenal bukan hanya karena rasanya, tapi juga karena misi sosial dan inovasinya,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo