KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Perekonomian Kalimantan Timur bergerak sangat dinamis sepanjang 2020 hingga 2024.
Setelah sempat terseok akibat pandemi Covid-19, Bumi Etam bangkit didorong rezeki nomplok dari kenaikan harga komoditas global.
Namun, di balik geliat positif itu, peta kontribusi ekonomi antar-daerah mulai bergeser, dengan Kutai Kartanegara yang perkasa kini mulai "terganggu" oleh akselerasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara.
Kutai Kartanegara (Kukar) masih menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim pada periode 2020-2024 berkisar antara 23–24 persen.
Sektor pertambangan dan perkebunan, serta industri pengolahan, menjadi lokomotif utama di Kukar. Ekspor dan investasi fisik ikut terdongkrak.
Namun, ada sinyal "merah" yang perlu diwaspadai. Tren penurunan kontribusi Kukar mulai terlihat. Penurunan harga komoditas ekspor, terutama batu bara, menjadi salah satu biang keladinya.
Selain itu, pesatnya pembangunan IKN dan munculnya industri pengolahan baru di wilayah lain, ikut mengikis dominasi Kukar.
"Kutai Timur (Kutim) menyusul di posisi kedua dengan kontribusi sekitar 18–23 persen. Mirip Kukar, Kutim juga mengandalkan pertambangan dan perkebunan, terutama produksi batu bara dan CPO," beber Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar.
"Sementara itu, Balikpapan menjadi pusat industri pengolahan, perdagangan, dan jasa. Kontribusinya sekitar 13–18 persen terhadap PDRB Kaltim," sambungnya.
Balikpapan membutuhkan investasi fisik, baik swasta maupun pemerintah, untuk terus menggenjot sektor-sektor tersebut. Aktivitas perdagangan antarwilayah juga didorong oleh perkembangan perdagangan dan jasa di Kota Minyak.
Samarinda, dengan jumlah penduduk terbesar, menyumbang sekitar 9-12 persen terhadap total ekonomi Kaltim.
"Sektor perdagangan dan jasa di kota ini terus tumbuh positif seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang mendorong konsumsi rumah tangga," lanjut Yusniar.
Di tengah fluktuasi kontribusi ekonomi, Penajam Paser Utara (PPU) mencuri perhatian. Meski kontribusinya masih relatif kecil di awal periode (1,49 persen pada 2020), PPU menunjukkan lonjakan signifikan di akhir periode.
Penetapan Undang-Undang Nomor 3/2022 tentang IKN menjadi motor penggerak utama. Pembangunan infrastruktur IKN masif, terutama di PPU dan sekitarnya, mengubah ekonomi daerah tersebut.
Periode 2020–2024 memang penuh gejolak. Pandemi Covid-19 pada 2020 sempat melumpuhkan hampir seluruh sektor ekonomi.
Namun, penanganannya yang efektif pada tahun berikutnya memicu pemulihan ekonomi Kaltim.
Pada 2022, konflik global membawa windfall bagi Kaltim. Harga komoditas unggulan, terutama batu bara, melonjak dan mendongkrak kinerja ekspor.
"Permintaan dari negara mitra dagang berlanjut hingga tahun berikutnya, bahkan diperparah dampak cuaca ekstrem," paparnya.
Selain itu, penetapan IKN juga menjadi stimulus besar. Pembangunan infrastruktur yang masif dan munculnya berbagai industri baru di beberapa kabupaten/kota semakin memperkaya dinamika ekonomi Kaltim.
Secara keseluruhan, sebaran PDRB per kabupaten/kota tidak mengalami perubahan yang sangat signifikan.
Namun, pergeseran kontribusi, terutama yang disebabkan oleh pembangunan IKN, patut terus dicermati untuk perencanaan pembangunan Kaltim ke depan.
Editor : Dwi Restu A