KALTIMPOST.ID - Balikpapan bersiap menjadi tuan rumah Hari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) pada 9–11 Juli 2025. Acara ini diproyeksikan menghadirkan lebih dari 2.000 peserta dari seluruh Indonesia, termasuk istri para menteri, pengurus Dekranasda dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota, serta pelaku UMKM.
“Ini momentum besar yang harus dimanfaatkan oleh pelaku usaha hotel dan restoran. Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar manfaat ekonominya bisa dirasakan luas oleh masyarakat,” ungkap Sekretaris Daerah Balikpapan Muhaimin, Selasa (27/5).
Lebih jauh, ia mendorong pelaku pariwisata dan pelaku usaha lainnya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada program pemerintah. Menurutnya, diperlukan langkah proaktif seperti menciptakan paket wisata tematik, memperkuat promosi destinasi lokal, serta menjalin kemitraan dengan sektor swasta dan komunitas.
"Kalau semua menunggu kegiatan pemerintah, maka ketika efisiensi terjadi, semua akan terkena dampaknya. Tapi jika aktif membangun kolaborasi dan menggali potensi lokal, kita bisa bertahan bahkan berkembang,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas ketenagakerjaan di tengah tekanan anggaran. “Kami mohon agar PHK dihindari. Bila memungkinkan, lakukan sistem kerja bergiliran. PHK bukan hanya berdampak pada pekerja, tapi juga stabilitas sosial dan ekonomi kota,” kata Muhaimin.
Muhaimin juga mengajak seluruh pihak untuk membangun pariwisata Balikpapan yang berkelanjutan. “Mari jaga ekosistem pariwisata, dan mencari solusinya bersama. Forum ini harus melahirkan gagasan konkret dan strategi optimis demi pariwisata berkelanjutan," tuturnya.
Dengan pendekatan efisiensi yang selektif dan kolaboratif, Pemkot Balikpapan menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal yang cermat dapat tetap berjalan seiring dengan pertumbuhan sektor strategis, termasuk pariwisata dan UMKM.
Muhaimin juga menambahkan, bahwa Forum Silaturahmi Industri Pariwisata yang digagas PHRI Balikpapan, menjadi sarana strategis untuk memperkuat jejaring antar pelaku industri dan mendorong kolaborasi nyata. Ia menekankan bahwa dalam situasi sulit, solidaritas menjadi kunci keberlangsungan sektor pariwisata.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa dalam situasi sulit, justru semangat kolaborasi dan solidaritas menjadi kekuatan utama. Efisiensi bukan akhir dari segalanya, ini tantangan untuk melahirkan inovasi dan memperkuat sinergi,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo