KALTIMPOST.ID-Menjelang Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah, Pemkot Balikpapan melalui Dinas Perdagangan mengintensifkan langkah-langkah pengawasan distribusi.
Selain itu memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok.
Meski stok sembako terpantau aman, distribusi antarpulau masih menjadi tantangan yang perlu diantisipasi serius.
“Kami memastikan pasokan sembilan bahan pokok tersedia cukup. Namun, distribusi beberapa komoditas, terutama bumbu dapur yang kerap naik jelang hari raya itu masih bergantung dari Pulau Jawa, sehingga perlu menjadi perhatian,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan Haemusri Umar, Senin (2/6).
Dikatakan, ketergantungan terhadap daerah penghasil di luar Kalimantan membuat rantai pasok beberapa bahan rentan terganggu akibat cuaca buruk, kemacetan pelabuhan, hingga dinamika harga di sentra produksi.
Komoditas seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih dinilai sebagai yang paling sensitif terhadap hambatan logistik ini.
“Yang perlu kami antisipasi adalah bumbu-bumbuan. Karena suplai mayoritas dari luar daerah, terutama Pulau Jawa, potensi keterlambatan distribusi bisa berdampak ke harga di pasar lokal,” jelasnya.
Dalam menghadapi tantangan itu, Pemkot Balikpapan mengambil langkah kolaboratif dengan instansi vertikal seperti Bulog dan kepolisian, serta memperluas sinergi dengan distributor dan pelaku pasar.
Salah satu langkah konkret adalah penyelenggaraan pasar murah yang tersebar di beberapa kecamatan, yang tidak hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga bertujuan mengintervensi harga pasar.
“Kami ingin suasana menjelang Iduladha berjalan lancar dan penuh rasa syukur. Karena itu, upaya stabilisasi ini bukan hanya untuk jangka pendek, tapi bagian dari agenda jangka panjang ketahanan pangan kota,” tambah Haemusri.
Isu distribusi pangan lintas wilayah juga membuka ruang diskusi lebih luas terkait ketergantungan Kalimantan terhadap Jawa dalam penyediaan komoditas pangan.
Meski Balikpapan sebagai kota industri memiliki infrastruktur logistik yang relatif baik, ketidakseimbangan suplai dalam negeri menjadi persoalan laten yang terus muncul setiap menjelang hari besar keagamaan.
Haemusri juga mengajak masyarakat untuk tetap rasional dalam berbelanja dan tidak melakukan panic buying, seraya mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak melakukan penimbunan yang berpotensi merugikan publik.
“Kami terus memantau pasar dan akan menindak tegas jika ditemukan pelanggaran yang merugikan konsumen,” tegasnya.
Sebagai kota yang terus berkembang di tengah proyek strategis nasional seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan dihadapkan pada tantangan ganda, menjaga stabilitas pasokan sambil membangun kemandirian pangan jangka panjang.
“Momentum Iduladha menjadi cermin penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi demi terwujudnya kota yang lebih tangguh terhadap gejolak logistik dan harga pangan,” pungkasnya. (rd)
Ulil Mu'awanah
Editor : Romdani.