KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Tingkat kemampuan daya beli petani di perdesaan, yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP), menunjukkan angka positif pada Mei 2025.
Berdasarkan data terbaru, NTP Kaltim tercatat 144,99 persen, sebuah indikator kuat bahwa petani di Bumi Etam mengalami surplus atau kenaikan daya beli secara signifikan.
NTP adalah barometer penting yang mengukur perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
“Angka itu mencerminkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi petani maupun biaya produksi mereka. Semakin tinggi NTP, semakin kuat pula daya beli petani,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Kenaikan NTP di Kaltim disebabkan lonjakan harga produk pertanian yang mereka terima, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk barang dan jasa, serta ongkos produksi (terhadap tahun dasar 2018=100).
Meski menunjukkan surplus yang menggembirakan, NTP Kaltim pada Mei 2025 sempat mengalami penurunan tipis 0,40 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Penurunan dipicu penurunan indeks harga hasil produksi pertanian yang cukup dalam, mencapai 0,83 persen,” ungkap Yusniar.
Sementara itu, indeks harga yang harus dibayar petani, meliputi konsumsi, biaya produksi, dan penambahan barang modal hanya turun sebesar 0,43 persen.
Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Mei 2024), NTP Mei 2025 secara umum menunjukkan kenaikan impresif 6,53 persen. Menegaskan bahwa kondisi ekonomi petani Kaltim jauh lebih baik dibanding setahun lalu.
Analisis lebih dalam menunjukkan dinamika yang berbeda di tiap subsektor pertanian pada Mei 2025. Dua subsektor mengalami penurunan NTP. Hortikultura anjlok 5,48 persen. Tanaman perkebunan rakyat turun tipis 0,44 persen.
Sebaliknya, tiga subsektor justru menunjukkan performa cemerlang dengan kenaikan NTP. “Tanaman pangan naik 0,89 persen. Peternakan melonjak 0,99 persen,” sambungnya.
Perikanan memimpin dengan kenaikan tertinggi 1,79 persen. Data itu dihimpun dari hasil survei pemantauan harga-harga di enam kabupaten utama di Kaltim.
Meliputi Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara. Dengan NTP yang tetap tinggi, diharapkan kesejahteraan petani di perdesaan Kaltim akan terus meningkat dan menopang perekonomian lokal.
Editor : Dwi Restu A