Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Baru Triwulan I, Ekonomi Kaltim Sudah Cetak Rekor Pertumbuhan

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 24 Juni 2025 | 19:20 WIB
DAYA BELI: Pada triwulan I, daya beli masyarakat membaik. Konsumsi rumah tangga naik seiring tercermin dari naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
DAYA BELI: Pada triwulan I, daya beli masyarakat membaik. Konsumsi rumah tangga naik seiring tercermin dari naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

SAMARINDA - Aktivitas ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan geliat positif pada awal 2025. Sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring dengan peningkatan kunjungan selama momen Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor perdagangan didorong oleh lonjakan mobilitas masyarakat. “Jumlah penumpang penerbangan domestik dan internasional meningkat 14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), memperlihatkan geliat kunjungan yang berdampak langsung pada aktivitas perdagangan,” ujar Budi.

Tak hanya itu, pergeseran penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) juga turut memengaruhi daya beli masyarakat. Jika tahun lalu penyaluran THR terbagi di triwulan I dan II, maka tahun ini seluruhnya dicairkan di triwulan I. Dikatakan Budi, hal itu mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga yang tercermin dari naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 151,59 menjadi 151,67.

“Menunjukkan optimisme masyarakat yang tetap tinggi terhadap kondisi ekonomi, sehingga mendukung peningkatan konsumsi dan aktivitas perdagangan,” jelas Budi.

Di sisi lain, sektor pertanian juga menunjukkan performa apik. "Lapangan Usaha (LU) pertanian tumbuh 6,13 persen (yoy) pada triwulan I 2025. Melonjak dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 3,95 persen," sambung Budi.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP), yang naik dari 142,4 di akhir 2024 menjadi 148,13 pada triwulan pertama tahun ini. Mengindikasikan bahwa pendapatan petani lebih tinggi dibandingkan biaya produksi dan konsumsi mereka.

“Peningkatan NTP tertinggi berasal dari subsektor hortikultura, naik signifikan dari 109,73 menjadi 123,9. Begitu pula NTP tanaman pangan yang meningkat dari 100,24 menjadi 100,57,” paparnya.

Faktor utama di balik lonjakan NTP adalah panen jagung dan beras yang lebih cepat. "Tahun ini, panen bergeser lebih awal dari triwulan II menjadi triwulan I, mendukung upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional," pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
#Ekonomi Kaltim #penerbangan domestik #bank indonesia #daya beli masyarakat