Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Harga Naik, Tapi Ekspor Gas dan Sawit Kaltim Malah Anjlok, Kok Bisa

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 25 Juni 2025 | 12:01 WIB
TINGGI: Secara harga, CPO dunia naik. Namun, secara tahunan, ekspornya turun hingga 39,48 persen yoy.
TINGGI: Secara harga, CPO dunia naik. Namun, secara tahunan, ekspornya turun hingga 39,48 persen yoy.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kinerja ekspor Kalimantan Timur (Kaltim) kembali melambat pada triwulan I 2025.

Penurunan tajam terjadi pada ekspor batu bara dan gas alam cair (LNG), yang membuat laju pertumbuhan ekspor provinsi ini kehilangan tenaga.

“Ekspor Kaltim secara keseluruhan hanya tumbuh 6,23 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,47 persen,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim, Budi Widihartanto.

Baik ekspor migas maupun nonmigas sama-sama mengalami kontraksi. Sangat memengaruhi capaian ekonomi dari sisi pengeluaran, terutama pada komponen ekspor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim.

Secara rinci, ekspor nonmigas tercatat terkontraksi hingga 10,45 persen (yoy), padahal sebelumnya sempat tumbuh tinggi sebesar 33,22 persen.

“Sementara itu, ekspor migas juga terkontraksi 12,51 persen (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan positif 2,76 persen di triwulan IV 2024,” lanjutnya.

Budi menjelaskan, pelemahan ekspor nonmigas terutama dipicu penurunan ekspor batu bara dan crude palm oil (CPO). Ekspor batu bara merosot tajam dari -3,65 persen (yoy) menjadi -27,55 persen.

Dikatakan Budi, hal itu karena melemahnya permintaan dari Tiongkok, yang menurun 4,16 persen (yoy). Setelah sebelumnya mencatatkan lonjakan permintaan hingga 42,35 persen.

Pasokan batu bara di Tiongkok sedang melimpah, dan kapasitas pembangkit listrik dari energi terbarukan seperti angin dan surya terus meningkat. Sehingga menggeser permintaan terhadap energi berbasis batu bara.

“Pasokan batu bara melimpah di negara tersebut di tengah kapasitas pembangi listrik tenaga angin dan surya yang melonjak 1.482 gigawatt (GW) pada periode pelaporan. Melampaui kapasitas listrik termal berbasis bahan bakar fosil untuk pertama kalinya,” jelas Budi.

Selain itu, harga batu bara global juga tercatat melandai dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yang semakin menekan nilai ekspor dari sektor tersebut.

Tak hanya batu bara, ekspor CPO Kaltim juga jatuh hingga 39,48 persen (yoy). Penurunan itu terutama disebabkan melemahnya permintaan dari Pakistan yang menjadi negara tujuan ekspor CPO terbesar ketiga Kaltim. Di sisi lain, persaingan dari negara produsen CPO lain juga semakin ketat.

“Meski harga CPO di level nominal naik, tapi secara tahunan kecepatannya melambat. Ini membuat nilai ekspor tak bisa terdongkrak,” imbuhnya.

Sementara itu, penurunan ekspor migas terjadi karena ekspor gas dalam bentuk LNG ikut terdampak kebijakan domestik. Komoditas gas tercatat anjlok 25,23 persen (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 14,18 persen (yoy).

“Penurunan ekspor gas disebabkan oleh penundaan pengiriman beberapa kargo LNG karena kebutuhan energi dalam negeri sedang meningkat,” jelas Budi.

Kebijakan tersebut muncul di tengah kondisi harga minyak dunia yang sedang melonjak akibat gejolak geopolitik global.

Alhasil, potensi ekspor energi dari Kaltim yang biasanya menyumbang besar bagi pendapatan daerah, justru harus dibatasi untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Editor : Dwi Restu A
#kehilangan #tiongkok #kaltim #gas alam cair #ekspor #batu bara