KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pandemi Covid-19 yang sempat membuat dunia terhenti justru menjadi titik awal usaha madu yang dikembangkan oleh Elaine Adelaide. Bersama suami, dia bangun usaha Istana Madu Balikpapan. Sekali panen, produksi hingga 300 kilogram madu murni.
Usaha bermula dari meningkatnya permintaan madu saat pandemi 2020 lalu. Masyarakat mulai sadar pentingnya imunitas dan mencari minuman herbal untuk menjaga daya tahan tubuh.
Saat itu perempuan yang biasa dipanggil Ines dan suaminya Amiruddin masih berperan sebagai distributor madu, namun peluang besar membuat mereka berpikir lebih jauh. “Suami saya bilang, kenapa tidak produksi sendiri? Dari situ kami mulai beternak lebah sekitar Agustus 2020,” tuturnya.
Untuk memulai, pasangan ini mendatangkan bibit lebah jenis Apis mellifera dari Sumatera dan Jawa. Jenis lebah itu dikenal produktif namun sedikit agresif, sehingga dipelihara jauh dari permukiman warga, tepatnya di kawasan Gunung Binjai, Teritip, Balikpapan. Di atas lahan hampir 1 hektare, mereka mengelola hingga 50 koloni lebah.
“Perawatan lebah ternak ini enggak bisa sembarangan. Karena madu itu manis, kalau sarang tidak dijaga bisa diserang semut. Jadi yang rutin ke peternakan itu suami, untuk perawatan sampai panen,” terang perempuan kelahiran 1973 itu.
Produksi madu dilakukan secara alami, tanpa pemanasan atau campuran. Proses panen bisa dilakukan paling cepat setiap 33 hari, dengan hasil yang bervariasi tergantung cuaca. Madu multiflora adalah jenis yang paling umum diproduksi, selain madu akasia dan randu. Sekali panen, bisa diperoleh hingga 300 kilogram madu.
“Tujuan kami bukan cuma memenuhi permintaan, tapi juga menjaga kualitas. Banyak yang jual madu, tapi tidak semua bisa jamin kemurniannya. Makanya kami berani jamin,” tegas Ines.
Di awal, pemasaran dilakukan hanya di Balikpapan, dengan promosi dari mulut ke mulut. Lambat laun, peminat datang dari berbagai daerah di Kaltim seperti Samarinda hingga Tenggarong. Pemasaran online baru dimulai pada 2021, bersamaan dengan pengurusan legalitas usaha dan perluasan jaringan distribusi.
Kini, madu dengan brand Natur-Bee mulai merambah di koperasi rumah sakit, toko oleh-oleh, dan reseller lokal. Bahkan Ines juga memiliki reseller luar Kalimantan seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Jawa Timur. Bahkan, beberapa produk sudah dibawa ke luar negeri secara hand carry, seperti ke Hong Kong dan Belanda.
Titik balik usahanya terjadi pada 2023, saat ia memutuskan resign dari pekerjaan dan fokus penuh mengembangkan bisnis madu. Dia mulai aktif mengikuti pelatihan ekspor dan menjadi salah satu peserta dalam program Export Kaltimpreneurs yang diadakan oleh Bank Indonesia.
Juni lalu, dia diundang untuk hadir dalam agenda Gebrak Pasar Internasional garapan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim. Lewat agenda itu pula, sampel madu multiflora dan akasia dari Natur-Bee berhasil dibawa ke Nigeria oleh salah satu coach ekspor. Dua varian tersebut menjadi favorit pasar karena cita rasa dan kemurniannya.
Harga jual madu bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp385 ribu, tergantung jenis dan ukuran. Konsumen loyal umumnya membeli dalam ukuran besar untuk stok jangka panjang.
“Kapasitas produksi kami siap untuk memenuhi permintaan, tapi kalau ada permintaan ekspor besar, kami terbuka untuk kolaborasi. Yang penting kualitas tetap terjaga,” ujarnya.
Dari usaha rumahan di tengah hutan, dia membuktikan bahwa madu murni Kalimantan bisa bersaing hingga ke pasar global. Kapasitas produksi yang cukup banyak, membuatnya semakin mantap untuk merambah pasar luar negeri. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo