KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Berawal dari mengikuti pelatihan singkat 18 hari di Balai Latihan Kerja (BLK), Hezkia Panggau dan Febriyanto berhasil membesarkan produk roti khas Tionghoa, mantau, menjadi camilan kekinian yang digemari anak muda.
Produk mereka yang unik diberi nama Mantau Bucin, akronim dari bulat dan licin. Hezkia memulai perjalanan di awal 2020. Kala itu dia baru saja keluar dari pekerjaan sebelumnya.
“Saya sebelumnya di batubara. Saat itu kosong, ikut pelatihan di BLK, supaya punya keahlian. Ambil kelas pembuatan roti dan kue, selama 18 hari. Setelah itu langsung coba jualan mantau,” kenangnya.
Namun, mantau buatan awalnya dirasa belum cukup ‘berbeda’. Beruntung, dia bertemu teman yang memperkenalkannya pada chef hotel di Batam. Dari situlah mereka mulai menemukan resep yang lebih pas, kemudian dikembangkan dengan inovasi sendiri.
“Tujuan kami jelas, kenalkan mantau ke anak muda. Biar bisa jadi teman nongkrong juga, bukan cuma makanan orang tua atau oleh-oleh. Jadi kami beri rasa-rasa manis, kayak chocolate crunchy,” ujar pria yang karib disapa Hezki itu.
Sayangnya, belum lama memulai usaha, pandemi melanda. Kafe yang sudah dia buka pun harus putar arah. Mereka fokus ke penjualan online dan pengantaran langsung ke rumah-rumah.
Dari situ, produknya mulai dikenal. Tantangan pandemi justru jadi peluang, UMKM bermunculan, persaingan ketat, tapi dia terus berinovasi. Salah satu terobosannya adalah mantau bawang dayak.
Dikenalkan pada 2023, jenis itu langsung menarik perhatian karena warna pink alami dan khasiatnya. Bawang dayak dikenal memiliki antioksidan tinggi, menurunkan kolesterol, hingga mencegah radikal bebas.
“Ini bukan cuma mantau enak, tapi juga sehat. Ada kearifan lokal yang kami angkat,” jelas Hezki. Produk itu bahkan berhasil menyabet Juara 3 dalam lomba mantau se-Balikpapan 2023, dan menjadi satu-satunya perwakilan Balikpapan yang dibawa Dinas Pariwisata ke Semarang untuk kurasi UMKM.
Tampilannya yang unik, membuat produk Hezki semakin dikenal. Tidak hanya itu, juga jadi mitra penyaji produk di rumah dinas wali kota dan tersedia di berbagai supermarket, toko frozen food, hingga bandara.
Outlet Mantau Bucin, yang awalnya hanya menjual mantau, kini berkembang menjadi gerai kuliner modern. Penjualan sudah menjangkau berbagai kota di luar Kalimantan, bahkan pernah dipesan oleh warga negara India dan Malaysia yang jatuh cinta pada kelembutan dan rasa mantau mereka.
“Banyak yang bilang mantau biasanya keras kalau digoreng, apalagi dari pagi. Tapi mantau kami tetap lembut sampai sore. Itu jadi selling point kami,” kata pria kelahiran 1985 itu.
Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga mulai mengembangkan varian rasa seperti mantau isi lada hitam, kepiting lada hitam, lalu manis dengan isi keju. Semua dipanggang tanpa perlu saus tambahan, sudah terasa enak langsung dari gigitan pertama.
“Itu yang kami coba untuk rambah pasar ekspor. Jadi mantaunya dipanggang,” ujarnya. Bersiap menembus pasar ekspor. Prototipe produk sudah diuji, tinggal menyempurnakan kemasan dan mencari investor serta buyer potensial. Bahkan, Dinas Koperasi dan UKM Balikpapan siap memfasilitasi konsultasi dan persiapan ekspor mereka.
“Kami ikut pelatihan, dan dari situ berpikir, ayo go internasional! Kami percaya produk lokal bisa bersaing,” ujar Hezki yang juga aktif sebagai Ketua II Forum Ekonomi Kreatif Balikpapan, khususnya di bidang pendidikan, pelatihan dan pengembangan.
Dalam satu hari produksi reguler, Mantau Bucin bisa menghasilkan 200-300 buah. Namun, utamanya saat event besar seperti APEKSI Balikpapan 2024 lalu, permintaan melonjak berkali lipat.
Dari mantau biasa menjadi brand kuat yang mengangkat kearifan lokal. Hezki membuktikan bahwa dengan inovasi dan ketekunan, UMKM bisa naik kelas dan siap menembus pasar global. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo