KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Arnesta Batik bukan hanya tentang estetika kain etnik khas Kalimantan, tapi juga bukti bahwa UMKM lokal bisa berdaya dan mendunia. Dimulai dari produksi rumahan di kawasan Perumahan Wika, kini usaha besutan Rones Triyono itu telah menembus pasar ekspor hingga Filipina dan Thailand.
"Awalnya produksi masih dilakukan di Cirebon, namun sejak 2010 mulai produksi sendiri di Balikpapan. Rumah produksi pertama terletak di rumah pribadi di kawasan Wika. Kini sudah memiliki workshop sendiri di daerah Sepinggan," terang Rones.
Tak hanya tumbuh secara fisik, Arnesta juga tumbuh bersama masyarakat. "Saat ini pembatik aktif ada lima orang. Untuk penjahitan kami bermitra dengan empat penjahit lokal di Balikpapan. Jadi memang memberdayakan sekitar juga. Apalagi jika pesanan banyak misal seragam lembaga, instansi, atau perusahaan," jelasnya.
Rones mulai dikenal publik ketika motif batiknya masuk dalam pemenang lomba desain batik Pemkot Balikpapan pada 2010. Motif tersebut kemudian dipadukan dengan ikon kota seperti bunga karamunting dan beruang madu.
Mulai 2011, permintaan baju jadi meningkat. Arnesta tak lagi hanya memproduksi kain, tapi juga pakaian siap pakai seperti seragam instansi hingga busana kasual berbahan batik.
Produk mereka tersebar di toko oleh-oleh, galeri Dekranasda, dua titik di Bandara SAMS Sepinggan, dan bahkan memasok kain motif Kalimantan dan Balikpapan ke butik-butik di Yogyakarta hingga Semarang.
Di sana, diakui jika kain motif Kalimantan laku keras. Tampil beda dengan motif tak biasa dan unik. Rutin suplai karena tinggi permintaan.
Dalam pertemuan business matching yang digelar kementerian di Bali, Rones bertemu dengan buyer dari Filipina serta Thailand. "Produk berupa pakaian jadi yakni blazer dan jaket. Dikirim dalam bentuk sampel sebanyak 80 pcs," ujar Rones.
Tanggapan buyer sangat positif. Bahkan saat ini, Arnesta tengah menyiapkan pengiriman sampel ke Thailand sebanyak 300 pcs.
Untuk menjaga minat konsumen, Rones juga rutin melahirkan desain baru. "Setiap minggu saya harus bisa desain motif baru. Bagian dari inovasi. Misal motif yang sudah ada, ditambah atau dipadukan dengan motif lain. Sekarang sudah lebih dari 100 motif saya buat," ungkapnya.
Langkah Arnesta makin melesat setelah mengikuti program Gebrak Pasar Internasional dari DPPKUKM Kaltim pada Juni lalu. Sebab memiliki potensi ekspor besar. Dan itu terbukti. Kini, dia makin mantap untuk menjajaki pasar global. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo