KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Mundur dari dunia perbankan bukan akhir dari perjalanan Erny Rufiaty. Justru itu menjadi awal dari kisah suksesnya membangun usaha kuliner khas Balikpapan, yakni mantau.
“Saya 15 tahun kerja di bank, tapi karena diminta pindah kota dan saya ikut suami ke Balikpapan, akhirnya saya pilih resign pada 2010,” ungkapnya. Usaha itu dia beri nama Mantau Fya. Merupakan nama panggilan Erny lainnya.
Awalnya, keputusan tersebut sempat membuatnya kehilangan arah. “Baru satu bulan resign, saya udah pusing. Enggak ada kegiatan, bingung mau ngapain,” kenangnya. Pernah coba kerja di belakang meja, yakni dunia pertambangan. Dirinya juga mengaku kurang cocok.
Dia pun mencoba membuat kue hias dan kukis sejak 2011 hingga 2017. Ternyata, ada bakat yang tak disadari. Nampaknya dia memang cocok di kuliner.
Usaha kue tersebut diakuinya lumayan ramai. Hadirkan berbagai kue unik dengan berbagai macam tampilan yang dibentuk dari fondant.
Hadirnya mantau terinspirasi dari teman lama yang berkunjung dari Jakarta. “Dia mau oleh-oleh, tapi enggak mau amplang. Saya beliin mantau, terus dia bilang, Elu nggak coba bikin aja? Pasti bisa," kata Erny menirukan celetukan temannya.
Sejak itu, dia terpikir membuat mantau versi berbeda. Tanpa kursus dan tak menemukan resep di YouTube, dia mencoba meracik sendiri. Lahirlah mantau rainbow, perpaduan aneka warna dalam satu mantau dan ada isinya macam bakpao.
“Waktu itu belum ada mantau warna-warni, apalagi yang ada isiannya. Padahal mantau umumnya enggak ada isinya. Saya coba inovasi sendiri,” tuturnya.
Dia tetap percaya diri mengenalkan mantau unik itu, meski banyak yang belum familiar. Hingga akhirnya mengikuti lomba membuat kreasi oleh-oleh khas yang diadakan salah satu brand mentega terkenal.
“Enggak nyangka malah bisa juara satu. Dari situ mulai dikenal, dan saya terus kembangkan,” ujarnya.
Masukan dari para chef pun diterima. “Kata mereka warnanya terlalu ngejreng, jadi saya sesuaikan. Tapi tetap ada yang cari mantau klasik, jadi saya produksi juga yang putih polosan,” jelasnya.
Anaknya yang lulusan Desain Komunikasi Visual ikut membantu dari sisi kemasan. Perlahan, dia berinovasi lagi menciptakan mantau oven kering, dengan rasa susu, keju, hingga topping kepiting.
“Yang topping kepiting itu saya ikutkan lomba inovasi teknologi pangan, alhamdulillah menang juga,” ujarnya bangga.
Usahanya terus tumbuh. Kini produknya sudah tersedia di hampir semua toko oleh-oleh di Balikpapan dan dua titik di Samarinda. Rumah produksi sekaligus tokonya berada di daerah Borneo Paradiso, Balikpapan. “Kami kerja lima hari seminggu. Pegawai ada lima orang,” ujarnya.
Produksi bisa mencapai 200 bungkus mantau oven dan 60 kotak mantau basah per hari, per kotak berisi 10 biji mantau. “Kalau ada event, bisa tiga kali lipat,” tambahnya. (*)
Editor : Ismet Rifani