Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Busana Etnik Kaltim Tembus Luar Negeri Tanpa Ekspor Formal, Musrifah: Kualitas Harus Nomor Satu

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 17 Juli 2025 | 23:45 WIB
AKTIF: Mengenalkan produk lewat berbagai ajang pameran. Musrifah juga fokus menggunakan wastra lokal.
AKTIF: Mengenalkan produk lewat berbagai ajang pameran. Musrifah juga fokus menggunakan wastra lokal.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Meski belum masuk tahap ekspor resmi, produk fesyen etnik Kalimantan Timur (Kaltim) milik Musrifah sudah lebih dulu dikenal di luar negeri. Bukan lewat distributor besar atau pengiriman massal, melainkan melalui jalur dibawa sendiri oleh pelanggan sebagai oleh-oleh dan hadiah pribadi.

“Kalau ke luar, untuk secara ekspor masih seperti oleh-oleh dibawa gitu. Biasanya orang kita (Indonesia) yang ke luar negeri minta dibuatkan baju dengan desain etnik Kaltim,” ungkap Musrifah, desainer asal Samarinda yang fokus memproduksi busana ready to wear berbasis wastra lokal.

Produk-produknya yang paling diminati adalah outerwear wanita, khususnya yang dirancang bisa dipakai bolak-balik. Inovasi ini membuat satu pakaian bisa memiliki dua tampilan berbeda, tanpa kehilangan sentuhan etnik. “Saya desain outer simpel, bisa dua gaya dalam satu pakaian. Itu yang paling banyak dicari sekarang,” ujarnya.

Desain yang dia usung bukan sekadar mempertahankan unsur tradisional, tapi juga mengikuti selera pasar. Musrifah bahkan mengaku melakukan riset langsung ke kota-kota seperti Yogyakarta dan Semarang, melihat tren busana oleh-oleh yang tengah digandrungi. “Ternyata outer simpel itu tren juga di sana. Saya coba kembangkan dengan kain khas Kaltim,” imbuhnya.

Minat pasar luar negeri terhadap produknya juga datang dari media sosial. Instagram menjadi etalase utama bagi pelanggan luar negeri, termasuk diaspora Indonesia yang ingin mengenalkan budaya lokal kepada kolega mereka. “Pernah ada yang dari Australia pesan karena lihat di IG. Sayangnya waktu itu belum ready stock,” kisahnya.

Melihat potensi tersebut, Musrifah tak tinggal diam. Dia mengikuti pelatihan ekspor dan bootcamp yang digelar Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur. Dari situ, dia memahami bahwa kualitas menjadi kunci utama jika ingin memasuki pasar ekspor.

Mulai dari jenis kain, detail jahitan, hingga standar pengemasan, semua harus dipenuhi. “Kalau mau ke pasar luar negeri, kualitas memang harus nomor satu. Tidak bisa asal kirim,” tegasnya.

Dia pun menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor UMKM. Menurutnya, pelaku usaha tak cukup hanya pandai desain, tapi juga harus paham regulasi dan mekanisme ekspor. “Kita harus tahu prosesnya, dari produksi sampai pengiriman. Harus jelas dan terstruktur,” katanya.

Kini, Musrifah tengah mempersiapkan produknya lebih serius agar suatu saat bisa menembus pasar luar negeri secara resmi. Dia berharap bisa mengikuti pelatihan lanjutan untuk mendalami proses ekspor secara teknis. “Harapannya tentu bisa ekspor beneran. Tapi harus siap betul, mulai dari SDM sampai produknya sendiri,” tutupnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#Kantor Perwakilan Bank Indonesia #bank indonesia #Wastra Kaltim #kaltim