KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan I 2025 masih cukup kuat. Terutama didorong oleh kenaikan harga dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Sementara itu, deflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penahan laju inflasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Busana Etnik Kaltim Tembus Luar Negeri Tanpa Ekspor Formal, Musrifah: Kualitas Harus Nomor Satu
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,84 persen (yoy), dengan andil tertinggi yakni 1,14 persen.
"Kelompok ini menjadi penyumbang utama inflasi Kaltim pada periode laporan dan mengalami peningkatan tekanan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,64 persen (yoy)," ujarnya.
Penyumbang inflasi terbesar kedua adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat inflasi 7,37 persen (yoy) dengan andil 0,36 persen. “Realisasi kelompok ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yakni 5,67 persen (yoy),” jelas Budi.
Di sisi lain, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga justru mengalami deflasi cukup dalam yaitu 4,06 persen (yoy), dengan andil terhadap deflasi 0,69 persen (yoy). Padahal, pada triwulan sebelumnya, kelompok tersebut masih mengalami inflasi 0,64 persen (yoy).
Berdasarkan komoditas, Budi menjelaskan bahwa penurunan tekanan inflasi pada kelompok makanan terutama disebabkan oleh komoditas hortikultura seperti bayam dan sawi hijau. “Tibanya musim panen di daerah sentra produksi seperti Jawa Timur menjadi penyebab penurunan tekanan komoditas ini,” ujarnya.
Namun, penurunan laju inflasi tertahan oleh komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti cabai rawit, ikan layang atau ikan benggol, serta udang basah. Budi menyebutkan bahwa cuaca ekstrem turut memengaruhi sektor kelautan. “Gangguan cuaca yang menyebabkan gelombang tinggi di laut mengurangi frekuensi dan kuantitas penangkapan ikan,” tambahnya.
Sementara itu, tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami penurunan harga berperan besar dalam terjadinya deflasi. “Tarif listrik mengalami deflasi akibat penurunan tarif sejalan dengan implementasi kebijakan diskon listrik untuk pelanggan dengan daya 2.200 VA ke bawah,” jelasnya.
Selain itu, harga bensin juga ikut turun setelah adanya kebijakan penyesuaian harga BBM oleh Pertamina pada Maret 2025.
Untuk kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, inflasi masih didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan. “Komoditas emas perhiasan masih mengalami inflasi seiring kenaikan harga emas global,” pungkas Budi. (*)
Editor : Ery Supriyadi