KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) menunjukkan arah baru dalam kinerjanya pada 2025. Tak sekadar mengejar target produksi, mereka juga menyeimbangkan antara efisiensi anggaran, keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kapasitas nasional.
Dalam konferensi pers pertengahan tahun yang digelar oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ada delapan capaian positif dipaparkan oleh Sekretaris SKK Migas Luky A Yusgiantoro, Rabu (23/7).
Namun yang menarik bukan hanya pada besarnya angka, tetapi bagaimana industri ini mulai menata ulang perannya untuk lebih inklusif, efisien dan berkelanjutan.
“Mayoritas fasilitas hulu migas di Indonesia sudah berumur, bahkan ada yang lebih dari 50 tahun. Namun SDM (sumber daya manusia, Red) kita mampu menjaga incident rate tetap rendah. Ini bukti bahwa transformasi hulu migas tidak hanya soal produksi, tapi juga profesionalisme dan kepedulian terhadap masa depan,” tuturnya.
Luky memaparkan, sepanjang semester I 2025, investasi hulu migas mencapai USD 7,19 miliar atau tumbuh 28,6 persen dibandingkan tahun lalu. Target sumber daya migas (contingent resource) bahkan melampaui target tahun penuh sebesar 151 persen. Lifting minyak mencapai 580 ribu barel per hari, lebih tinggi dari periode sama pada 2024.
Namun angka-angka itu hanya bagian dari cerita besar. Ada upaya serius untuk mengendalikan cost recovery agar tidak membebani keuangan negara. SKK Migas memproyeksikan cost recovery tahun ini akan berada di angka USD 8,2 miliar, lebih rendah dari pagu yang ditetapkan sebesar USD 8,5 miliar.
“Efisiensi ini berarti lebih banyak dana negara yang bisa dialokasikan untuk program-program prioritas pemerintah,” tambah Luky.
Capaian lain yang disorot adalah keselamatan kerja. Tingkat insiden (incident rate) berhasil ditekan menjadi 0,13, jauh di bawah target nasional 0,5 dan rata-rata global 0,81. Sementara realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) terus meningkat, memperkuat industri nasional dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Namun yang menjadi sorotan utama dalam konferensi kali ini adalah keberpihakan industri hulu migas terhadap isu lingkungan. Sebanyak 760 ribu pohon telah ditanam sebagai bagian dari program pelestarian, mencerminkan keseriusan sektor ini dalam menjaga ekosistem.
“Kita tidak bisa bicara energi tanpa bicara lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam hari ini adalah investasi jangka panjang untuk anak cucu kita. Hulu migas harus menjadi bagian dari solusi, bukan masalah,” tegas Luky.
Ia juga menekankan bahwa iklim investasi yang semakin sehat membuka peluang bagi lebih banyak investor besar untuk masuk. Ini tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga kontribusi terhadap sektor industri lainnya seperti pupuk, yang penting untuk program swasembada pangan.
"Dengan tantangan global dan domestik yang semakin kompleks, SKK Migas menegaskan bahwa arah industri hulu migas kini tak lagi tunggal. Namun harus menjadi tulang punggung energi sekaligus garda depan dalam efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo