KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tantangan operasional di kawasan pelabuhan bukan hanya soal logistik, tetapi juga menyangkut budaya kerja yang disiplin dan tanggap terhadap risiko.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) kembali menggelar kegiatan Management Walkthrough (MWT) sebagai langkah aktif dalam memperkuat pengawasan keselamatan dan efisiensi di lapangan.
Kegiatan MWT kali ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama KKT Enriany Muis, bersama jajaran manajemen dengan meninjau area-area krusial seperti proses bongkar muat, kondisi peralatan operasional, penataan lapangan penumpukan, hingga pelaksanaan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Tidak sekadar inspeksi visual, MWT dikemas sebagai dialog terbuka antara manajemen dan pekerja. Dalam sesi tersebut, manajemen menerima masukan langsung dari lapangan yang selama ini kerap menjadi titik awal munculnya inovasi prosedur dan perbaikan teknis.
“MWT bukan sekadar rutinitas kontrol, tetapi salah satu cara kami membangun budaya kerja yang kolaboratif dan tanggap risiko. Melalui pendekatan langsung seperti ini, kami bisa mengenali permasalahan di lapangan secara lebih jernih dan merumuskan solusi yang realistis,” ungkap Enriany, Senin (28/7).
Dalam kunjungan tersebut, manajemen juga menyoroti pentingnya konsistensi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), kelayakan alat berat, serta kebersihan lingkungan kerja sebagai bagian dari sistem kerja yang terintegrasi.
Isu yang mengemuka dalam MWT kali ini adalah upaya memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya keselamatan sebagai bagian dari produktivitas. Enriany menekankan bahwa budaya kerja aman tidak hanya ditentukan oleh SOP, melainkan juga oleh sikap dan kedisiplinan individu di lapangan.
“Kami percaya bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab pengawas, tetapi tanggung jawab bersama. Karena itu, pendekatan kami bukan sekadar menegur, melainkan juga mendengar, memotivasi, dan memberi contoh langsung,” tambahnya.
Beberapa evaluasi penting yang muncul dari MWT antara lain kebutuhan penyesuaian alur kerja agar lebih efisien, pemeliharaan alat berat secara berkala, serta pentingnya keterlibatan seluruh lini kerja dalam menjaga ketertiban area operasional.
Hasil temuan dan observasi dalam MWT ini akan menjadi landasan untuk program perbaikan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat performa layanan terminal KKT sekaligus memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional tetap berada dalam koridor keselamatan dan efisiensi.
Dengan model pendekatan langsung ini, KKT tidak hanya berfokus pada target-target teknis, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai kerja yang menjadi fondasi keseluruhan sistem pelayanan.
"Pendekatan humanis inilah yang diyakini perusahaan akan menjadi kunci keberlanjutan di tengah dinamika industri logistik dan pelabuhan yang semakin kompetitif," tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo