Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Berawal dari Niat Evi Novita Sari Iseng Jajal Usaha Camilan, Kini Produknya Mejeng di Rak Minimarket

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 29 Juli 2025 | 18:46 WIB
SERIUSI: Evi (tengah) mulai serius kembangkan usaha saat pandemi. Produksi rutin dua jenis keripik dan juga terima orderan dalam jumlah besar.
SERIUSI: Evi (tengah) mulai serius kembangkan usaha saat pandemi. Produksi rutin dua jenis keripik dan juga terima orderan dalam jumlah besar.

 

KALTIMPOST.ID, BERAU – Tidak ada yang menyangka, keripik tempe yang awalnya hanya ditawarkan lewat grup WhatsApp RT, kini bisa dijumpai di rak minimarket dan Rumah Kemas Batiwakkal di Berau.

Di balik kisah sederhana itu, ada perjuangan penuh semangat dari Evi Novita Sari, seorang ibu dua anak yang merintis usaha dari rumah dengan nama Kiasha Snack.

Usahanya berawal pada 2019, saat tengah mengandung anak kedua, Evi harus menjalani bed rest total. Aktivitasnya di luar rumah terhenti, termasuk usaha jualan baju yang semula cukup ramai dijalani sejak 2015.

“Awalnya saya memang online. Pas pindah ke Berau ikut suami, saya jualan baju, selimut, dan perlengkapan lainnya secara daring pas 2015 itu. Alhamdulillah ramai, lumayan dikenal waktu itu,” kisah Evi.

Namun kondisi berubah drastis ketika dia hamil dan disusul pandemi Covid-19. Gerak terbatas, pesanan menurun, dan penghasilan pun nyaris terhenti. Di tengah situasi tersebut, Evi mencoba mencari cara lain. Pekerjaan untuk mengisi waktu, namun tetap membersamai anak-anaknya.

“Saya ini orangnya enggak betah diam. Setelah izin suami, saya coba bikin camilan dan ditawarkan ke grup WA RT. Ternyata responsnya bagus. Dari situlah muncul ide jualan makanan,” ujarnya.

Produk pertama yang dia buat adalah keripik tempe. Bermodal alat seadanya, dia mulai produksi kecil-kecilan dari dapur rumah. Camilan itu dijual hanya berdasarkan pesanan, dan perlahan mulai merambah produk lain seperti keripik pisang tanduk, sambal baby cumi, stik ubi, stik daun kelor, dan bahkan amplang khas Kaltim, meski beberapa masih dibuat berdasarkan permintaan.

“Kalau yang rutin sampai sekarang itu keripik tempe, pisang tanduk, sama sambal baby cumi. Yang lain seperti stik daun kelor dan ubi sama amplang, itu by order. Belum produksi besar karena waktu dan tenaga juga masih terbatas,” kata perempuan kelahiran 1989 itu.

Proses produksinya masih dikerjakan sendiri. Untuk keripik tempe, Evi biasanya menggoreng langsung, mengemas, dan mengantar sendiri ke toko atau rumah kemasan. Dia bahkan rutin mengecek stok yang dititipkan ke toko kelontong maupun minimarket.

“Awalnya datang ke minimarket itu nekat aja. Bawa sampel, tanya ke kasir, terus diarahkan ke manajemennya. Alhamdulillah diterima, dan sejak itu saya titip rutin,” jelasnya. Kini, produknya sudah tersebar di beberapa titik penjualan di Berau.

Khusus di Rumah Kemas Batowakkal dia menyuplai sekitar 50 hingga 150 pcs per bulan, tergantung permintaan. Sementara jika ada momen spesial seperti Ramadan dan Lebaran, produksi bisa melonjak tajam. “Pernah pas Lebaran, pesanan keripik tempe sampai 25 kilogram. Itu ada yang bantu buat produksi biar kejar waktu,” ungkap ibu dua anak itu.

Meski kini produknya sudah dikenal, awal usaha Evi tidak langsung dilengkapi izin. Titik baliknya datang saat salah satu warga RT memberi informasi soal pelatihan PIRT yang difasilitasi oleh perusahaan tambang PT Berau Coal.

“Saya ikut pelatihan itu sekitar 2023, kalau enggak salah. Difasilitasi pembuatan NIB, PIRT, bahkan urus halal yang self-declare. Ilmunya sangat membantu untuk usaha saya. Dari yang awalnya hanya jualan online, sejak 2023 baru mulai berani titip karena sudah ada izin-izinnya,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Evi mulai lebih serius menekuni usaha. Meskipun masih skala rumahan dan manual, dia sudah memiliki peralatan tambahan untuk mempercepat proses produksi. Dia juga terbuka terhadap ajakan pelatihan dari dinas atau lembaga terkait.

Penjualan Kiasha Snack masih mengandalkan media online, terutama grup jual beli di WhatsApp. Menurut Evi, media tersebut justru lebih efektif. “Kalau lewat WA, bisa langsung interaksi. Pembeli juga banyak yang repeat order karena sudah tahu kualitasnya,” ujar dia.

Produk sambal baby cumi misalnya, masih dijual khusus secara online karena masa simpan yang lebih pendek. Sementara produk keripik dan stik, lebih fleksibel untuk dititip ke toko-toko.

Dalam jangka panjang, Evi sudah punya rencana besar yakni membangun rumah produksi sendiri. “Sekarang masih dari dapur rumah. Kalau nanti bisa punya rumah produksi, saya bisa rekrut orang juga, produksi lebih banyak, dan lebih profesional,” katanya penuh semangat.

Meski jalannya tidak instan, Evi tetap bersyukur. Baginya, usaha Kiasha Snack adalah bentuk ikhtiar dari niat baik untuk membantu ekonomi keluarga sambil tetap membersamai tumbuh kembang anak-anaknya.

“Usaha ini awalnya cuma buat isi waktu, iseng-iseng berhadiah. Tapi ternyata ini jalan rezeki kami. Saya tetap bisa jaga anak, tapi juga punya penghasilan. Itu yang paling penting,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pisang tanduk #berau #keripik #Kiasha Snack #umkm #tempe