Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Gapki Kaltim Dorong Transformasi Industri Sawit Berkelanjutan, Siap Gaet Lebih Banyak Anggota

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 31 Juli 2025 | 15:28 WIB

Rachmat Angga Perdana Ketua GAPKI Kaltim menyebut jika Rakercab jadi momen untuk menyelaraskan program kerja yang akan dijalankan ke depan.
Rachmat Angga Perdana Ketua GAPKI Kaltim menyebut jika Rakercab jadi momen untuk menyelaraskan program kerja yang akan dijalankan ke depan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat perannya dalam mendorong transformasi industri sawit yang berkelanjutan.

Melalui Rapat Kerja Cabang (Rakercab) 2025 yang digelar Kamis (31/7), GAPKI Kaltim menegaskan arah barunya yang adaptif, kolaboratif, dan dinamis dalam menghadapi tantangan industri sawit ke depan.

Ketua GAPKI Kaltim Rachmat Perdana Angga menyebut Rakercab tahun ini menjadi momen strategis untuk mengevaluasi sekaligus menyelaraskan program kerja yang akan dijalankan ke depan.

“Tidak sekadar meninjau capaian sebelumnya, tapi juga menetapkan langkah-langkah kerja yang mendengar kebutuhan anggota, serta relevan dengan dinamika industri saat ini,” ungkap Angga.

Baca Juga: Permen Kayu Manis Buatan Ibu Rumah Tangga Ini Tembus Minimarket dan Hati Konsumen

Rakercab tersebut juga menjadi awal penggodokan Forum Borneo 2026, agenda tahunan bergilir GAPKI se-Kalimantan, di mana tahun depan Kaltim didapuk sebagai tuan rumah.

Direktur Eksekutif GAPKI Pusat, Mukti Sardjono, menegaskan bahwa meskipun dunia sempat dilanda krisis akibat pandemi COVID-19, industri sawit justru menunjukkan ketahanan luar biasa. Pada 2022, ekspor sawit nasional tercatat mencapai USD39 miliar atau setara Rp627 triliun.

“Ini memberikan kontribusi besar dalam menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap positif,” jelas Mukti.

Baca Juga: Tiga Sistem Pembayaran BI Ungkap Tren Baru Transaksi Uang di Kaltim

Lebih lanjut, melalui program biodiesel, industri sawit turut menekan impor energi hingga Rp120 triliun atau USD7,9 miliar pada 2023. Selain itu, sektor itu menyerap tenaga kerja besar, menyediakan bahan pangan dan energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

“Daerah seperti Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Paser di Kaltim adalah contoh nyata transformasi ekonomi berbasis kelapa sawit,” tambahnya.

Namun demikian, tantangan besar masih dihadapi. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kaltim 2025, dari 263 perusahaan perkebunan yang ada, baru 79 yang tergabung dalam GAPKI. Luasan yang dikelola anggota GAPKI hanya 370 ribu hektare dari total 1,3 juta hektare lahan sawit di Bumi Etam.

Baca Juga: Dari Guru ke Pengusaha Snack, Kisah Lia yang Punya 10 Produk Unggulan

“Masih banyak ruang untuk memperluas jejaring organisasi. Harus menjadi prioritas GAPKI Kaltim 2025 untuk menjadikan seluruh perusahaan anggota GAPKI,” tegas Mukti.

Apalagi, regulasi dari pemerintah dan Kementerian Lingkungan Hidup telah mewajibkan perusahaan yang ingin mendapatkan proper wajib menjadi anggota GAPKI.

Di balik pencapaian gemilang, GAPKI juga mencatat tantangan, salah satunya kampanye negatif terhadap industri sawit masih marak di berbagai platform, termasuk regulasi internasional seperti EUDR yang dinilai merugikan.

“Ini menuntut kolaborasi, komitmen, dan keberanian untuk menghadirkan solusi yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Mukti.

Baca Juga: Berawal dari Niat Evi Novita Sari Iseng Jajal Usaha Camilan, Kini Produknya Mejeng di Rak Minimarket

Menutup Rakercab, pengurus GAPKI Kaltim menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota atas kontribusinya dalam menggerakkan industri sawit di Bumi Etam.

“Semoga Rakercab ini menjadi momentum memperkuat sinergi, memperbesar kontribusi, dan meneguhkan semangat untuk membangun industri kelapa sawit Indonesia yang inklusif," tutup Angga. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#Industri Sawit Berkelanjutan #Gapki Kaltim