KALTIMPOST.ID-Tidak pernah terbayang oleh Darmawati. Usaha rumahan yang dia rintis dengan modal Rp 300 ribu pada akhir 2011 akan bertahan dan terus berkembang hingga hari ini.
Kini, puluhan toko di Kaltim sampai Kaltara menjual produk-produknya. Bahkan beberapa produknya telah menjadi bekal jamaah haji dan bisa ditemukan di Bandara Kalimarau, Berau.
Usaha bernama Dhea Rasa itu bermula dari dapur sederhana dan ide membuat stik bawang. Darmawati mencoba menitipkan lima bungkus stik bawang di satu toko dengan sistem konsinyasi.
Tanpa disangka, laris manis. Toko-toko pun mulai meminta ukuran bungkus yang lebih besar karena permintaan konsumen meningkat.
“Awalnya saya hanya titip lima bungkus per toko, karena memang modal masih terbatas. Tapi alhamdulillah, stik bawangnya laku. Dari uang hasil penjualan itu saya putar terus. Jadi makin banyak stok yang bisa saya siapkan,” ujar Darmawati.
Dari satu toko, pemasaran berkembang lewat promosi mulut ke mulut, hingga kini produknya sudah tersebar ke puluhan toko.
Selain stik bawang, produk Dhea Rasa juga mencakup keripik pisang, kue angka delapan, kue cincin, kacang cokelat, dan yang paling anyar, kalampuri.
Produk kalampuri jadi daya tarik tersendiri. Camilan berbahan dasar udang rebon itu dikembangkan Darmawati secara mandiri saat masa pandemi Covid-19.
“Pas lockdown saya coba goreng rebon buat camilan. Gagal berkali-kali, tapi saya terus coba sampai ketemu tekstur yang pas,” kenangnya.
Respons pasar sangat positif. Produk kalampuri langsung disambut dengan antusias oleh keluarga dan tetangga.
Setelah mendapat masukan, Darmawati terus memperbaiki rasa dan kemasan. Kini, kalampuri telah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan dipasarkan baik untuk konsumsi pribadi maupun oleh-oleh khas Berau.
“Begitu dicoba pasarkan, sambutannya bagus. Awal jual itu hanya Rp 10 ribu. Dari situ banyak yang pesan. Bahkan ada yang pesan sampai kiloan,” katanya.
Kini, produksi Dhea Rasa dilakukan setiap hari oleh empat tenaga kerja. Mereka menyesuaikan produksi berdasarkan stok dan pesanan, bergantian membuat berbagai jenis produk.
“Kami ada reseller di Samarinda, Bontang, Tarakan, sampai Bulungan. Jadi mereka ambil banyak untuk dijual lagi. Produk kami sempat jadi bekal jamaah haji tahun ini,” ucap Darmawati bangga.
Distribusi dilakukan dua kali dalam sebulan untuk restock di toko-toko. Produk juga bisa ditemukan di Bandara Kalimarau, menjadi salah satu pilihan oleh-oleh praktis bagi para pelancong.
Meski usahanya terus berkembang, Darmawati mengaku masih menghadapi kendala, terutama saat musim hujan.
“Kalau hujan, susah jemur udang rebon. Tapi sejauh ini bahan baku alhamdulillah masih aman,” ungkapnya.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, Darmawati tetap rendah hati dan terbuka pada masukan pelanggan.
“Saya justru senang kalau dikritik. Dari situ saya tahu harus perbaiki bagian mana,” tuturnya.
Ke depan, dia berharap bisa meningkatkan produksi dan memperluas jangkauan pemasaran. “Disyukuri saja, dari yang kecil, pelan-pelan bisa besar. Mudah-mudahan bisa lebih luas lagi pasarnya,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.