KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Usaha tak harus menunggu pensiun. Itulah yang dilakukan Ade Dwinathan, yang sekarang bekerja di sebuah agensi sosial media di Kota Tepian.
Dia membuktikan bahwa semangat wirausaha bisa berjalan seiring dengan pekerjaan kantoran. Usaha makanan rumahan miliknya, Bekalin Aja Gin, lahir dari keresahan sederhana, bingung makan siang apa.
“Setiap hari teman-teman kerja suka bingung mau makan apa. Saya bawa bekal, mereka suka coba, terus mereka saranin untuk dijual saja. Selain itu, kalau mau pesan online kan bosan menu itu-itu saja,” tutur pria yang dipanggil Nathan itu.
Padahal, itu bukan kali pertama Nathan mencoba peruntungan. Sebelumnya, dia pernah menjalankan jasa percetakan freelance, bahkan thrifting baju. Tapi karena kesibukan kantor, bisnis itu sempat ‘ditidurkan’.
“Memang dasarnya saya suka usaha. Dulu buka printing juga. Karena basic awal kan SMK jurusan multimedia, jadi memang bisa desain. Jadi orang pesan desain ke saya, baru saya cetak di rekanan printing. Cuma ya karena belum ada konsep, jadi usahanya enggak berjalan lama,” jelasnya.
Berbeda dengan usaha sebelumnya, kali ini Nathan lebih matang. Sebulan penuh dia melakukan riset rasa, uji coba menu dan membangun branding. “Saya konsep dari awal. Menu, kemasan, sampai desain dibantu teman-teman kantor. Alhamdulillah support-nya besar,” ungkapnya.
Nathan tak sendiri. Dia menjalankan Bekalin Aja Gin bersama ibunya, yang turut andil dalam urusan dapur. “Eksekusi masakan saya sama Ibu. Kalau menu oseng, resepnya dari Ibu. Kalau chicken steak dan katsu, itu dari saya,” katanya.
Konsepnya pun sederhana tapi menarik. Bekalin menyasar kalangan pekerja kantoran dan pelajar yang menginginkan makan enak tanpa harus keluar kantor. Hadirkan menu berbeda setiap hari, tapi juga masih terjangkau karena mulai Rp17 ribu.
Sistem pemesanan Bekalin dibuat praktis, pesan H-1, makanan diantar keesokan paginya. Bahkan kini tersedia paket mingguan dan bulanan. “Ada yang langganan tiap hari karena ambil paket bulanan,” jelas alumnus Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) itu.
Dia menyadari bahwa usaha kuliner punya tantangan tersendiri. Dari bangun subuh menyiapkan bahan, memasak, hingga pengantaran. Tapi Nathan menjalaninya dengan semangat. “Karena memang saya suka masak dan suka bisnis,” katanya.
Kini, setelah tiga bulan berjalan, Bekalin Aja Gin mulai dikenal. Orderan tak hanya dari teman kantor, tapi juga dari luar lingkungan kerjanya. Nathan mulai merancang rencana jangka panjang, termasuk ikut event kuliner dan menambah variasi menu.
Di tengah kesibukan agensi, dia tetap berusaha menjaga performa bisnis. Bahkan, Nathan berencana mengaktifkan kembali jasa percetakannya yang dulu sempat vakum. “Sekarang sudah mulai bisa bagi waktu. Harapannya bisa terus berkembang,” ungkapnya.
Bagi Nathan, punya usaha bukan sekadar soal untung. Tapi juga soal menyalurkan hobi, memperluas jaringan dan belajar manajemen waktu. “Kalau dari dulu saya lebih tertarik usaha sih, kayak ada tantangannya. Dan bisa cari duit juga,” tuturnya sambil tertawa.
Nathan adalah potret anak muda yang berani memulai. Usahanya bukan sekadar jualan makanan, tapi cermin dari kegigihan, keberanian, dan naluri bisnis yang terus diasah. Dari bekal pribadi, kini jadi ladang rezeki. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo