KALTIMPOST.ID, BERAU – Siapa sangka, dari kesulitan pribadi mencari madu murni di masa pandemi 2020, Nur Alif Ahmad Daroini justru menemukan jalan membuka usaha bernama Nisbad Madu Sejahtera.
Kini, produk andalannya seperti madu hutan dan sari jahe instan telah menembus pasar hingga Pulau Jawa. Selain tentunya, berbagai minimarket di lokal Berau sudah menampung produknya.
Awalnya, Alif hanya ingin menjaga daya tahan tubuhnya ketika virus corona tengah merebak. "Saya sempat ngerasain kena juga. Madu kan juga bagus untuk daya tahan tubuh," ujarnya.
Namun, dia mengaku kesulitan menemukan madu murni. “Awalnya untuk ke madu ini, kok susah betul cari madu murni atau madu mentah,” ungkap pria kelahiran 1987 itu.
Berbagai upaya dilakukan, termasuk mencari lewat jaringan teman-temannya. "Dapat cuma ya agak lebih mahal karena susah," katanya. Dari situlah, dia mulai menjalin koneksi dengan para pencari madu hutan.
Produk madu yang dipasarkannya merupakan hasil panen dari hutan sekitar Berau, Kalimantan Tengah, hingga Sumatera. "Ada tim yang manjat, ada juga varian madu ternak atau kelulut. Madu hutan itu dari pohon-pohon besar, satu sarang paling banyak bisa dapat 100 kilo madu," jelas Alif.
Namun panen madu sangat tergantung cuaca. "Kalau lagi banyak hujan, tim manjat enggak keluar. Hampir tiap hari tim turun cari sebenarnya," ucapnya.
Untuk madu kelulut, panennya lebih teratur. “Panen sebulan sekali, sekali panen bisa dapat 10 kiloan. Ada sekitar 50-an sarang,” tambahnya.
Meski mulai berburu madu sejak 2020, produk baru dijual ke publik akhir 2022. “Masih nyari-nyari, masih dari tangan ke sekian, masih tinggi harganya. Baru akhir 2022 ketemu tim pemanjat yang benar-benar bisa diajak kerja sama,” jelasnya. Kepercayaan pun terbangun.
Tak hanya madu, Alif juga memproduksi sari jahe instan. Bermula dari aktivitas Alif yang terbiasa berada di jalan. Dia mereka “repot” harus membawa jahe mentah kemana-mana. Belum lagi, jahe geprek harus bertemu air yang benar-benar panas agar keluar sarinya.
Dari situ, dia mulai berpikiran untuk membuat jahe instan. Inspirasi datang dari video di YouTube yang membahas bagaimana proses membuat jahe instan bubuk. “Pertengahan 2023, kami mulai produksi sari jahe instan,” kata Alif.
Soal pemasaran, usaha itu sudah menjangkau berbagai kota. Termasuk dua reseller di dua kota besar di Jawa, yakni Malang dan Bojonegoro. Bukan keluarga atau teman, tapi justru konsumen.
Diceritakan jika mulanya mereka beli produk Alif. Ternyata cocok, rutin membeli dan akhirnya mereka menjadi reseller tetap. Di Berau, produk sari jahe sudah tersedia di beberapa titik minimarket.
“Kalau yang madu baru ada di satu tempat. Sempat coba taruh di minimarket, cuma madu perputarannya enggak cepat. Pasaran minimarket itu lebih banyak ke jahe,” bebernya.
Ke depan, Alif berharap produknya bisa terus berkembang. Namun dia menyadari tantangan tidak sedikit. “Untuk madu ini tergantung dengan alam, mudah-mudahan alam ini bisa terjaga, enggak kesulitan nyari. Dari sisi bahan baku, memang agak sulit sekarang cari madu hutan alami,” ujarnya.
Dia juga menyoroti tantangan dari sisi konsumen. “Madu lebih banyak tantangan untuk edukasi ke konsumen. Tantangan diedukasi itu. Biasanya orang baru percaya kalau sudah merasakan khasiatnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo