Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Bukan Cuma soal Angka, Ini Dua Isu Sensitif yang Bikin Saham Raksasa BCA Tembus Batas Psikologis

Dwi Puspitarini • Senin, 18 Agustus 2025 | 12:08 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

KALTIMPOST.ID, Raksasa perbankan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sedang tidak baik-baik saja di lantai bursa.

Pada Jumat (15/8/2025) sore, harga sahamnya tergelincir di bawah level psikologis penting Rp 9.000, mendarat di posisi Rp 8.700 per saham.

Namun, penurunan ini bukan sekadar angka di layar monitor; ada dua cerita besar di baliknya yang membuat investor ritel menahan napas.

Dua isu panas yang datang hampir bersamaan, satu dari ruang sidang yang melibatkan selebriti papan atas, dan satu lagi dari masa lalu kelam sejarah ekonomi Indonesia, menjadi pemberat langkah saham primadona ini.

Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (14/8/2025), aktris Nikita Mirzani melempar sebuah bola panas yang langsung mengarah ke BCA.

Saat menjadi saksi, ia mengaku kaget bukan kepalang saat mengetahui data transaksi rekening pribadinya diserahkan ke penyidik tanpa pemberitahuan.

Bagi Nikita, rekening itu adalah jantung privasinya yang berisi catatan penghasilan dari berbagai sumber.

“Rekening itu bukan cuma soal kasus dengan Reza Gladys, tapi juga ada pembayaran dari film, endorse, dan off-air nyanyi. Bayaran saya bisa Rp 125 juta untuk tampil 45 menit,” ungkap Nikita dengan nada kecewa di persidangan.

Pernyataannya bukan sekadar keluhan. Ia merasa privasinya sebagai nasabah prioritas telah dilanggar dan berencana melayangkan somasi.

Seolah belum cukup, isu lama yang jauh lebih besar kembali diembuskan. Ekonom UGM, Sasmito Hadinegoro, secara mengejutkan mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menindaklanjuti skandal legendaris Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Sasmito melontarkan pernyataan tajam yang membuat pasar bergidik. Menurutnya, negara punya hak penuh untuk mengambil alih kembali saham mayoritas BCA yang kini dipegang Djarum Group.

“Pemerintah punya hak untuk mengambil kembali 51 persen saham BCA, tanpa harus bayar,” tegas Sasmito, yang juga menjabat Ketua LPEKN.

Ia menuding proses akuisisi di masa lalu penuh rekayasa dan pengambilalihan kembali saham ini akan menjadi langkah strategis untuk memperkuat keuangan negara.

Wacana ini, meski sering muncul, kali ini terasa lebih nyaring dan menambah sentimen negatif bagi pergerakan saham BBCA.

Di tengah dua guncangan ini, para analis pasar mencoba menenangkan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa fundamental BCA masih sekuat baja. Menurutnya, penurunan harga ini lebih bersifat sesaat karena sentimen dan kepanikan pasar.

“Kalau BCA solid lah, fundamentalnya solid,” ujar Nafan. Ia bahkan masih optimis dengan target harga jangka panjang di level Rp 12.500 per saham.

Nafan menjelaskan bahwa kepanikan ini lebih banyak dipicu oleh investor ritel yang mudah terpengaruh oleh berita-berita heboh.

“Pelemahan sekarang lebih karena faktor psikologis. Investor masih wait and see melihat dinamika pasar dan isu-isu yang berkembang,” jelasnya. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#Perlindungan Data Nasabah #Mirae Asset Sekuritas #prabowo subianto #investasi saham #harga saham bca #blbi #nikita mirzani #Saham BBCA #saham BCA #skandal blbi