KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Nilai Tukar Petani (NTP) Kaltim pada Juli 2025 bergerak beragam di tiap subsektor. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat subsektor hortikultura mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara subsektor perkebunan rakyat dan peternakan justru mengalami penurunan cukup dalam.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, kenaikan maupun penurunan NTP dipengaruhi oleh pergerakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
"Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) Juli 2025 102,54 atau mengalami kenaikan 0,80 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan NTPP disebabkan karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 1,34 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,53 persen," jelas Yusniar.
Jika dirinci lebih lanjut, It pada subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan di semua kelompok. “Kenaikan tertinggi dialami kelompok palawija 1,46 persen, diikuti kelompok padi 1,30 persen. Selanjutnya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga dan indeks BPPBM mengalami kenaikan masing-masing 0,61 persen dan 0,31 persen,” bebernya.
Subsektor hortikultura menjadi penopang terbesar. NTPH Juli 2025 yakni 123,45 atau mengalami kenaikan 3,02 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan NTPH disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 3,65 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,60 persen.
Pendorong kenaikan berasal dari kelompok sayur-sayuran. Jika dilihat berdasarkan kelompoknya, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami kenaikan pada kelompok sayur-sayuran 7,20 persen. Sebaliknya, kelompok buah-buahan dan kelompok tanaman obat-obatan mengalami penurunan masing-masing 0,94 persen dan 2,75 persen.
Selanjutnya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga dan indeks BPPBM mengalami kenaikan masing-masing 0,64 persen dan 0,35 persen.
Berbeda dengan hortikultura, subsektor perkebunan rakyat mengalami tekanan. “NTPR Juli 2025 195,80 atau mengalami penurunan 1,46 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan NTPR disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 0,97 persen, sebaliknya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,49 persen,” ungkap Yusniar. Meski turun, NTPR masih menjadi yang tertinggi dibanding subsektor lain.
Hal serupa dialami subsektor peternakan. NTPT Juli 2025 yaitu 105,05 atau mengalami penurunan 1,46 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan NTPT disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 1,09 persen, sebaliknya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,37 persen.
Dia menambahkan, penurunan It di subsektor peternakan terjadi di hampir semua kelompok. Jika dilihat berdasarkan kelompoknya, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami penurunan pada tiga kelompok, yaitu kelompok ternak besar 1,74 persen, kelompok ternak kecil sebesar 2,09 persen, dan kelompok unggas 0,75 persen.
“Sebaliknya, kenaikan dialami oleh satu kelompok, yaitu kelompok hasil-hasil ternak/unggas 0,13 persen. Selanjutnya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga dan indeks BPPBM mengalami kenaikan masing-masing 0,68 persen dan 0,01 persen,” urainya.
Sementara subsektor perikanan relatif stabil. NTNP Juli 2025 102,65 atau mengalami penurunan 0,02 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan NTNP disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) hanya naik 0,48 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,50 persen.
Dikatakan Yusniar, kenaikan It subsektor perikanan tercatat pada seluruh kelompok. Jika dilihat berdasarkan kelompoknya, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami kenaikan pada seluruh kelompok, yaitu kelompok perikanan tangkap 0,24 persen dan kelompok perikanan budidaya 0,98 persen.
Selanjutnya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami kenaikan pada kelompok Konsumsi Rumah Tangga dan indeks BPPBM masing-masing 0,52 persen dan 0,48 persen. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo