KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bagi pelaku UMKM, bukan hanya soal rasa yang menentukan sebuah produk bisa bertahan di pasar. Legalitas, kemasan, hingga sumber daya manusia (SDM) menjadi tantangan nyata.
Hal itu dialami Siti Aisyah, pelaku usaha kue kering asal Samarinda yang sejak 2007 merintis usaha dari nol. “Pokoknya legalitas awal itu punya 2010. Itu sudah berani nitip di toko oleh-oleh meskipun masih kemasan sederhana. Sebelumnya ya masih titip-titip di warung,” jelasnya.
Legalitas seperti PIRT dan sertifikasi halal menjadi syarat penting agar produk bisa diterima ritel modern. “Karena kita enggak bisa masuk juga di toko-toko minimarket kalau enggak punya legalitas. Mereka kan takut kalau ada pemeriksaan,” ujarnya.
Selain legalitas, kemasan juga menjadi faktor krusial. Aisyah sempat pusing saat masih menggunakan toples. Pada 2015, dia mendapat dukungan pemerintah berupa desain kemasan baru.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ. SDM menjadi masalah besar yang dihadapi. “Anak-anak gengsi enggak mau ngerjain kayak gini. Jadi paling dapat orang yang seusia saya atau di bawah saya. Jadi memang mau cari karyawan agak sulit. Karena saya jaga betul kualitas, apalagi ini makanan,” ujarnya.
Aisyah jaga betul kepercayaan konsumen. Bahan baku utamanya adalah kacang, pernah dia mendapati kacang yang tengik. Walhasil, satu karung kacang jadi terbuang sia-sia. "Takut betul saya kalau ada komplain soal rasa. Jadi memang cari yang bener-bener bisa kerja. Karyawan yang sama saya ini ya sudah 10 tahun lebih sama saya," bebernya.
Aisyah menekankan pentingnya mencari karyawan yang punya komitmen. “Kalau saya itu cari karyawan bukan hanya sekadar antara owner dan karyawan. Kita membangun kerja sama kekeluargaan. Jadi dia punya merasa memiliki,” sambungnya.
Kini ada sedikitnya empat orang yang membantunya rutin produksi selama lima hari kerja dalam seminggu.
Dari sisi pemasaran, dia juga pernah salah langkah dengan langsung menyebar produk ke banyak toko sembako. “Akhirnya retur lebih banyak. Ternyata setiap kemasan itu punya pasar sendiri. Kalau toko sembako harusnya kemasan ekonomis, kalau oleh-oleh kemasannya cantik,” terangnya.
Untuk menjaga kualitas, dia memilih tidak memakai pengawet. Kunci daya tahan ada pada teknik memanggang produk kue kacang dan kacang lumpur produksinya. “Saya pernah ikut pelatihan, ternyata ada kue kering tahan satu tahun tanpa pengawet. Jadi dari teknik saja," paparnya.
Kini, produk dengan brand Maromai sudah bertahan lebih dari 15 tahun di pasar. Dia menyebut semua itu karena kombinasi inovasi, legalitas, kemasan, SDM, hingga strategi distribusi.
Perjalanan panjang itu membuktikan, bertahan sebagai UMKM bukan sekadar menjual rasa, melainkan juga manajemen usaha. “Semua proses. Dari legalitas, packaging, sampai SDM, semua harus siap. Kalau tidak, produk bagus pun bisa hilang dari pasar,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo