KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim mengalami deflasi bulanan 0,40 persen (mtm).
Sementara secara tahunan tercatat inflasi 1,79 persen (yoy), dan inflasi tahun kalender (ytd) 1,51 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto menjelaskan, capaian itu menempatkan inflasi Kaltim dalam sasaran nasional.
Budi menyebut Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami deflasi 0,40 persen (mtm).
Sementara itu, secara tahunan dan tahun kalender, IHK Kaltim tercatat masing-masing 1,79 persen (yoy) dan 1,51 persen (ytd).
Capaian tersebut menempatkan inflasi Kaltim berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 ± 1 persen dan lebih rendah dibandingkan realisasi nasional yang sebesar 2,31 persen (yoy).
"Kondisi itu mencerminkan stabilitas harga di Bumi Etam yang semakin terjaga di tengah dinamika ekonomi,” terangnya.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Juli 2025, kondisi inflasi Kaltim jauh lebih terkendali. Pada Juli, BPS mencatat inflasi tahunan Kaltim 2,08 persen (yoy) dengan inflasi bulanan 0,06 persen (mtm).
Artinya, Agustus mengalami perbaikan signifikan dengan capaian deflasi bulanan.
Budi memaparkan, deflasi Kaltim pada Agustus 2025 terutama disumbang kelompok transportasi dengan andil -0,29 persen (mtm).
Hal itu seiring peningkatan frekuensi penerbangan angkutan udara. Tekanan deflasi juga dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil -0,15 persen (mtm), terutama akibat panen raya tomat dan cabai rawit.
Meski begitu, penurunan lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga emas yang masuk dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
"Kondisi tersebut sejalan dengan langkah pengendalian inflasi yang terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” kata Budi.
Dia menambahkan, TPID bersama Bulog meningkatkan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke seluruh kabupaten/kota se-Kaltim.
Selain itu, pasar murah untuk cabai rawit, cabai merah, hingga sayuran digelar masif guna menekan harga pangan bergejolak.
Tidak hanya itu, TPID Kaltim juga mendorong peningkatan produksi pertanian serta kesejahteraan petani melalui pengembangan Sistem Mekanisme Pengendalian Komoditas Utama (MANDAU). Program itu dirancang untuk memantau stok dan harga strategis secara cepat.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau di Mahakam Ulu (Mahulu), TPID menyalurkan beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai bantuan darurat.
Upaya penguatan komunikasi terus dijaga melalui rapat teknis hingga High Level Meeting (HLM) antar-TPID se-Kaltim.
“Ke depan, TPID Kaltim akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan program pengendalian inflasi melalui strategi 4K, serta mendorong realisasi investasi private sektor bisa tumbuh lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Kaltim yang tinggi dan berkelanjutan serta inflasi Kaltim yang rendah dan stabil,” pungkas Budi. (*)
Editor : Dwi Restu A