KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Peningkatan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran membuat Balikpapan mengalami inflasi sebesar 1,40 persen (year on year/yoy) pada Agustus 2025 lalu.
Utamanya pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencapai 2,61 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama mengatakan, meningkatnya harga kebutuhan pangan, khususnya daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, serta rokok kretek filter menjadi faktor pendorong utama inflasi kota ini.
Sementara itu, kelompok transportasi, kesehatan, dan pendidikan juga turut memberi andil, meski relatif lebih kecil dibanding sektor pangan.
“Inflasi tahunan di Balikpapan pada Agustus 2025 sebesar 1,40 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum, sekaligus menjadi refleksi dinamika ekonomi masyarakat kita sepanjang setahun terakhir,” tuturnya, Rabu (3/9).
Menurut data BPS, kelompok transportasi menyumbang inflasi sebesar 1,55 persen, kesehatan 1,03 persen dan pendidikan 1,25 persen. Namun tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. Contohnya, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen.
“Kita perlu memperhatikan sektor konsumsi harian, di mana fluktuasi harga pangan paling cepat dirasakan masyarakat. Serta juga menghindari berberapa momen yang membuat masyarakat panic buying. Stabilitas harga pangan ke depan harus menjadi prioritas,” jelasnya.
Selain itu, kenaikan harga juga terasa pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang naik 2,36 persen. Hal ini turut mencerminkan besarnya peran sektor usaha menenfah kecil dan mikro (UMKM) di bidang kuliner kota ini.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, inflasi Agustus 2025 di Balikpapan tercatat sebesar 0,07 persen secara month to month (mtm).
Angka ini menunjukkan kecenderungan inflasi yang stabil selama beberapa bulan terakhir. Sementara secara year to date (ytd), inflasi mencapai 1,31 persen. “Dengan laju inflasi yang moderat ini, harapannya daya beli masyarakat tetap terjaga, dan pelaku usaha kecil mampu beradaptasi dengan situasi harga,” ungkap Marinda lagi.
Perkembangan Indeks Harga Konsumen yang dipublikasikan BPS Balikpapan memperlihatkan secara jelas tren inflasi selama 2025, berdasarkan kelompok pengeluaran dan indeks bulanan. Fluktuasi harga yang terjadi menjadi cermin respons pasar terhadap faktor-faktor musiman, pasokan bahan pokok, serta kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kota.
Menurut Marinda, kepastian pasokan, kerja sama lintas sektor, serta inovasi pelaku UMKM merupakan kunci stabilitas harga di Balikpapan. “Keterlibatan aktif masyarakat, termasuk perempuan sebagai pelaku usaha mikro dan kecil, semakin penting dalam menjaga kelancaran distribusi bahan pokok di kota ini,” tutup Marinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo