KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Neraca perdagangan Kalimantan Timur kembali mencatatkan kinerja positif pada Juli 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim melaporkan, Bumi Etam mengalami surplus perdagangan USD1.328,67 juta.
Namun, surplus itu bukan tanpa catatan. Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, sektor nonmigas menjadi penopang utama.
“Neraca perdagangan sektor nonmigas tercatat surplus USD1.422,16 juta, sebaliknya sektor migas tercatat defisit sebesar USD93,49 juta,” ujarnya.
Bila ditarik lebih panjang, tren defisit migas di Kaltim ternyata sudah berlangsung lama. Selama Januari hingga Juli 2025, sektor ini masih membukukan minus.
“Selama Januari-Juli 2025, sektor migas mengalami defisit sebesar USD879,47 juta,” jelas Yusniar.
Meski begitu, sektor nonmigas tampil sebagai penyelamat. Pada periode yang sama, nonmigas berhasil menyumbang angka besar. Yakni mengalami surplus hingga USD9.844,27 juta.
Kombinasi dua sektor itu membuat total neraca perdagangan Kaltim tetap solid di jalur positif. “Secara total kumulatif neraca perdagangan selama Januari-Juli 2025 mengalami surplus USD8.964,80 juta,” papar Yusniar.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, pola yang sama juga terlihat. Neraca migas cenderung defisit, sedangkan nonmigas rutin mengisi kantong surplus.
Data BPS menunjukkan, sepanjang 2024, sektor migas minus USD994,87 juta. Namun nonmigas berhasil mencetak surplus USD20.662,30 juta, sehingga totalnya tetap positif.
Surplus itu makin menguatkan peran sektor nonmigas sebagai penggerak perdagangan Kaltim. Komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan turunannya konsisten menjaga tren ekspor.
Adapun impor Kaltim lebih banyak ditopang kebutuhan industri, termasuk migas. Tingginya biaya impor sektor migas menjadi salah satu penyebab defisit berulang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo